Senin, 04 Oktober 2010

Kepahitan Kopi Hitam


27 September 2010
Hari yang seharusnya penuh kebahagiaan tiba-tiba berubah hujan air mata. Tidak pernah sekalipun terbayangkan, hari dimana aku diwisuda akan menjadi seperti ini. Mungkin ini memang hukuman, peringatan, hantaman godam yang sangat keras, begitulah yang kurasa, sekalipun mungkin bagi orang lain, ini peristiwa biasa, tidak bagiku.
                Berawal dari ketidak hati-hatianku, ternyata memicu emosi kakakku tercinta yang sudah aku anggap sebagai ayahku sendiri. Satu-satunya orang yang datang ke acara wisudaku, orang yang sangat ingin kubahagiakan, orang yang sangat kusayangi, orang yang bagiku adalah segala. Sosok yang ada ketika aku butuh orang tua, sosok yang ada ketika aku butuh perlindungan. Tapi semua sudah terjadi, godam telah dihantam. Justru dihari yang aku begitu ingin melihat senyumnya saat menatapku bangga, ia berlalu dengan kesal tanpa melihatku sedikitpun.
                Hancur perasaanku. Sama sekali tidak menyangka akan jadi seperti ini. Dalam kerumunan orang-orang yang berbahagia, aku menangis. Aku tak akan pernah menyangka menelan kopi pahit. Seseorang yang begitu lembut, penyayang, sangat peduli kepadaku, dihari aku ingin membahagiakannnya, membuatnya tersenyum, beliau ternyata bersikap sebaliknya.
                Sungguh, kepahitan yang seumur hidupku tak ingin kurasakan untuk kedua kali. Ini adalah teguran, ‘jangan kira logikamu bisa membaca semuanya’. Sebuah peringatan keras ‘ jangan banyak dosa supaya hidupmu tidak melulu kepahitan’, sebuah hukuman, sebuah kasih sayang Allah yang masih memberikan teguran lewat kejadian aneh tapi menyakitkan. Semoga semuanya menjadi lebih baik dan tidak melulu kopi hitam yang pahit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar