Rabu, 06 Oktober 2010

MENUJU KE LAUT

karya:  Sutan Takdir Alisyahbana

Kami telah meninggalkan engkau,
tasik yang tenang, tiada beriak
diteduhi gunung yang rimbun
dari angin dan topan
Sebab sekali kami terbangun
dari mimpi yang nikmat :



“Ombak ria berkejar-kejaran
di gelanggang biru bertepi langit
Pasir rata berulang dikecup,
tebing curam ditantang diserang,
dalam bergurau bersama angin,
dalam berlomba bersama mega.”

Sejak itu jiwa gelisah,
Selalu berjuang, tiada reda,
Ketenangan lama rasa beku,
gunung pelindung rasa penggalang.
Berontak hati hendak bebas,
menyerah segala apa mengadang.

Gemuruh berderau kami jatuh,
terhempas berderai mutiara bercahaya,
Gegap gempita suara mengerang,
dahsyat bahna suara menang.
Keluh dan gelak silih berganti
pekik dan tempik sambut menyambut

Tetapi betapa sukarnya jalan,
badan terhempas, kepala tertumbuk,
hati hancur, pikiran kusut,
namun kembali tiadalah ingin,
ketenangan lama tiada diratap
…………………………………..

Kami telah meninggalkan engkau,
tasik yang tenang, tiada beriak,
diteduhi gunung yang rimbun
dari angin dan topan
Sebab sekali kami terbangun
dari mimpi yang nikmat



Puisi “Menuju ke Laut” adalah puisi karya Sutan Takdir Alisyahbana. Sutan Takdir Alisyahbana merupakan salah satu tokoh pelopor lahirnya pujangga baru.



Bait pertama:
Bait pertama mengambarkan seseorang yg keluar dari sebuah Zona aman, yaitu keadaan dimana seseorang merasa hidup nyaman tanpa konflik yg berarti. Dalam bait itu Zona aman digambarkan dengan “tasik yang tenang, tiada beriak
diteduhi gunung yang rimbun
dari angin dan topan”, ia pergi karena memang hidup tidak seperti itu, kenyataan selalu dipenuhi dengan konflik-konflik, hal ini ditunjukkan dengan kata-kata “terbangun dari mimpi yang nikmat”.


Bait kedua:
Bait kedua mengambarkan sebuah dinamisme kehidupan beserta masalah-masalahnya, dimana selalu terjadi perubahan-perubahan, hal ini dapat dirasakan dari kata-kata “Ombak ria berkejar-kejaran
di gelanggang” dan “tebing curam ditantang diserang,
dalam bergurau bersama angin,
dalam berlomba bersama mega”


Bait ketiga:
Bait ketiga menunjukkan bahwa ketika seseorang sudah keluar dari zona aman, ketika ia mulai memikul tanggung jawab, mulai terjun menjadi bagian masyarakat, mulai mandiri, pilihan yang ada hanyalah ia selalu berjuang. Sebuah masa untuk berjuang yang akan dilalui setiap orang. Sebuah frase dalam hidup setiap manusia.

Bait keempat:
Kemenangan dan kekalahan akan datang silih berganti, tidak ada yg selalu menang dan yg selalu kalah. Sebuah dinamisme dalam perjuangan, selalu berganti antara menang dan kalah.

Bait kelima:
Bait kelima menunjukkan bahwa tidak ada penyesalan dalam sebuah perjuangan. Bagaimanapun sulit yg ditempuh, tidak boleh meratap dan menyesal, seperti kata-kata “namun kembali tiadalah ingin,
ketenangan lama tiada diratap”


Bait keenam
Bait terakhir ini perulangan bait pertama, sebuah romantisme akan masa lalu. Sebuah romantisme masa lalu setelah perjuangan panjang.

Dari keseluruhan puisi, dapat diambil kesimpulan bahwa puisi ini berkisah tentang sebuah perjalanan hidup manusia. Berawal dari meninggalkan zona aman dan memulai perjalanan hidup. Memulai sebuah perjuangan, memaknai segala dinamisme kehidupan, menerima dinamisme perjuangan dan segala konsekuwensinya tanpa penyesalan. Dan pada akhirnya, perjuangan dan perjalanan hidup akan meninggalkan romantisme yg indah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar