Selasa, 15 Februari 2011

Pertemuan Terakhir

Aku terpana melihatnya sedang duduk bersama seorang lelaki dan mereka saling menggenggam tangan erat. Sang lelaki berdiri dan berjalan mendekatiku. Bukan dia yang kuharapkan berdiri dan menghampiriku. Lelaki itu memberikan uang recehan kemudian kembali ketempat duduknya tadi. Aku bahkan belum sempat menyanyikan lagu apapun. Aku merasa diusir.

Kini semuanya berakhir. Ia sedang asik bermesraan dengan pria lain. Ia, wanita yang selama ini kuidamkan. Wanita yang kuimpikan. Setiap sabtu sore dan minggu sore aku selalu menghampiri rumahnya. Terkadang aku ingin memberanikan diri untuk sekedar berkenalan, tapi rasanya aku terlalu grogi, jantungku berdegub tak karuan dan akupun urung mengucapkan sepatah kata.




Duniaku berhenti. Kupandangi uang recehan yang baru saja diberikan lelaki itu. “Jadi hanya ini yang kudapat”. Berkali-kali aku melewati rumah ini. Menyanyikan lagu cinta yang paling terbaru dan paling disukai. Ia pernah memujiku sekali, “suara mas bagus, main gitarnya juga enak. Jangan sungkan kembali kesini mas” saat itu aku hanya membalasnya dengan senyuman. Semenjak itu, aku selalu suka saat menunggunya keluar, berjalan menghampiriku, memberikan uang recehan sambil tersenyum. Aku selalu hafal perhiasan kesukaannya, ia selalu memakai gelang hijau yang mengkilat bertuliskan namanya, Rea welasti. Wanita itu selalu ada dirumah setiap sabtu sore dan minggu sore. Mungkin diam-diam dia juga menungguku.

Hari itu aku berjalan dengan gontai. Duniaku lumpuh, aku segera mengambil tempat di pojokkan terminal. Aku seperti boneka rusak, diam tak bergerak. Aku memang sudah rusak, dirusak lamunan dan harapan sia-sia. aku mengamati pergelangan tanganku yang mengenakan gelang hijau mengkilat bertuliskan “Dodi irawan” namaku. Jenis gelang yang sama dengan milik Rea.

***

Sore itu terminal Jatinegara geger dengan ditemukannya sesosok mayat laki-laki. Pria tersebut menyayat lengan nadinya sendiri. Ia dikenal sebagai seorang pengamen yang biasa mangkal di terminal.

Seorang petugas kamar mayat mengamati mayat Dodi. Awalnya ia mengamati luka sayatan yang menyebabkan kematian Dodi, kemudian beralih ke gelang hijau ditangan Dodi. Setelah itu buru-buru ia membuka kantong mayat disebelah mayat Dodi. Ia menemukan gelang yang sama, berwarna hijau mengkilat. Gelang itu bertuliskan Rea Welasti, mayat korban perkosaan dan pembunuhan. Petugas kamar mayat itu memandang bergantian dua mayat didepannya, seolah-olah sedang bertanya, ‘Rea welasti dan Dodi Irawan, kalian ada hubungan apa?’.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar