Pada sebuah pantai yang berbau harum bunga-bunga. Aku pernah berucap padamu, “aku akan menjadi lumba-lumba”, tapi kamu lalu tersenyum sambil terus menatap senja. Angin bertiup kencang mempermainkan ujung-ujung helai rambut, meniupkan gemerisik pada daun-daun pohon kelapa, dan menyisir ombak ketepi pantai.
”aku serius Luna, aku akan menjadi lumba-lumba”. Aku mengulangi kata-kataku demi secercah wajah teduhmu menoleh kepadaku.
“ tidak, kamu adalah manusia, berjalan dengan dua kaki dan berucap dengan kata-kata, tidak mungkin kamu menjadi ikan, apalagi lumba-lumba. Pekerjaanmu sebagai seorang penyelam tidak lantas membuatmu menjadi lumba-lumba bukan, coba pikirkan dengan akal sehat” kamu tersenyum sambil tetap melihat senja.
Seekor lumba-lumba melompat sambil berteriak nyaring, “Ouu’’ “ dengan lengking tinggi dan kemudian air laut berkecibak tertimpa berat tubuh birunya. Katamu, pekerjaan sebagai penyelam tidak lantas membuatku menjadi lumba-lumba. Sirip lumba-lumba memang tidak sama dengan kaki sirip penyelam. Kulit lumba-lumba juga tidak sama dengan pakaian selamku yang berwarna biru. Bukan itu yang kumaksudkan Luna. Aku benar-benar akan berubah seperti lumba-lumba yang melompat itu. bermocong lumba-lumba, sirip, kulit yang sama. Istilah kerennya bertransformasi mungkin.
Luna begitu serius menatap senja, aku jadi penasaran dengan apa yang sedang kamu perhatikan. Begitu menarikkah senja. Begitu menarikkah sampai engkau tidak sedikitpun memperlihatkan wajah teduhmu. Aku tidak rela hanya melihatmu dari samping, aku ingin engkau menoleh. Kukatakan sekali lagi, “ aku akan menjadi lumba-lumba”, atau mungkin engkau tidak percaya ucapanku, karena engkau tidak bisa membayangkan seperti apa perubahanku nanti sambil melihat senja seperti ini. Engkau tidak bisa melihat langit yang biru ketika senja. engkau tidak bisa membayangkan warna kulit yang membiru ketika aku mulai berubah menjadi lumba-lumba. Mungkin itu yang terjadi padamu Luna, sehingga engkau tidak percaya aku akan berubah menjadi lumba-lumba. Ini salahku, mengajakmu pada sebuah pantai ketika senja. Ini salahku, engkau tidak bisa melihat langit cerah yang kebiru-biruan.
Aku masih terus penasaran ketika yang terdengar hanya desau gelisah angin senja, deburan ombak dan suara cericit burung-burung camar, bukan suaramu. Aku ingin mendengar suaramu Luna. Tapi engkau lebih suka diam, sambil melihat langit senja yang oranye seperti kulit jeruk. Matahari kemerah-merahan, suara ombak dan cericit burung camar. Engkau lebih suka diam dan membiarkan senja mengaliri dirimu. Ombak, cericit burung camar dan langit-langit senja lebih dekat denganmu daripada aku, atau bahkan dirimu sendiri. Aku cemburu Luna, pada mereka, pada ombak, burung-burung camar dan langit-langit senja.
Kenapa engkau terus menatap katulistiwa dengan begitu tajamnya Luna. Tidakkah engkau bosan atau matamu yang indah menjadi sakit karenanya. Ahh, mungkin senja itu yang telah mempengaruhimu sedemikian rupa. Banyak sekali kisah tentang orang-orang yang hilang ditepi pantai. Orang-orang mengira mereka dibawa makhluk halus penunggu pantai, atau sang ratu yang terkenal itu. tetapi menurutku sama sekali tidak Luna. Awalnya mereka sepertimu, terpesona oleh katulistiwa pada senja seperti ini, lalu perlahan tanpa mereka sadari, mereka menghampiri senja itu seperti orang terhipnotis. Dan cerita tentang orang-orang yang hilang ditepi pantai mulai terdengar. Semenjak itu pulalah pantai ini berbau harum bunga-bunga.
Luna, kau masih tidak mengalihkan pandanganmu setelah mendengar ceritaku. Aku kembali cemburu melihat kedekatanmu dengan debur suara ombak, cericit burung camar dan kemilau langit-langit senja yang kemerahan. Apakah itu artinya kau akan pergi kesana juga, kearah katulistiwa senja kulit jeruk, seperti orang-orang yang hilang itu.
***
Andai kau dapat mendengarnya Luna. Pada malam hari setelah kepergianmu, aku mulai berteriak-teriak “Ouu’’ “ dengan lengking tinggi agak parau. Orang-orang mengira itu adalah suara lumba-lumba yang melompat-lompat di keheningan malam ditengah laut. Lumba-lumba memang aneh, mereka memang senang melakukannya. Melompat di keheningan malam dengan suara “Ouu’’ “ melengking tinggi tanpa tujuan yang jelas, mereka hanya senang melakukannya.
Lalu apa kau tahu Luna, lumba-lumba sebenarnya bukanlah sejenis ikan, mereka dulunya manusia pula, sama seperti aku, kamu atau manusia-manusia lainnya. Entah bagaimana mereka lalu berubah menjadi makhluk seperti itu. tetapi itu memang pilihan mereka Luna. Mungkin supaya mereka bisa melompat dari dalam air ke udara sambil berteriak dengan lengkingan tinggi. “Ouu’’….Ouu’’… Ouu’’ “.
Semuanya mulai berubah bagiku Luna. Aku tidak perlu lagi memakai perlengkapan selam untuk sekedar menyelam sejauh seratus meter, dan setiap hari kemampuanku menyelam semakin bertambah. Aku tidak perlu lagi menggunakan tabung udara dan perlengkapan lainnya. Semua milikku itu kuberikan kepada si Radite, muridku yang ingin menjadi seorang penyelam pula. Saat ia mulai bertanya, bagaimana mungkin aku bisa menyelam tanpa alat-alat itu, saat itu pulalah kuberikan semua alat-alat selamku kepadanya, lalu mengusirnya untuk tidak lagi banyak bertanya kepadaku, “BUKAN URUSANMU….”teriakku saat itu. radite pun berlari ketakutan sambil menangis terisak-isak. Luna, bukankah engkau juga tahu betapa sayangnya aku pada muridku itu. selain engkau, hanya ia yang kukenal. Aku mulai menyesal dan malam itu aku menangis sepuasnya. Kularikan tubuhku kelaut karena disana, aku tidak lagi merasakan rembesan air mata yang keluar melalui dua celah mataku. aku mulai lagi berteriak-teriak “Ouu’’ “ dengan lengking tinggi sambil melompat ke udara dan menyibakkan air laut.
Pada saat engkau pergi Luna, kemudian Radite, aku merasa bahwa waktuku sudah semakin dekat. Risau desah angin pantai tidak lagi menyegarkan tubuhku. Suara ombak dan Cericit burung-burung camar semakin membuatku merasa rindu. Kurasakan bahwa waktuku semakin cepat dan aku akan segera berubah menjadi lumba-lumba untuk selamanya. Akankah kau kembali Luna. Aku ingin membuktikan ucapanku dulu, ketika kubilang “aku akan menjadi lumba-lumba”.
Pada sebuah pantai yang berbau harum bunga-bunga. Aku masih termangu sambil terus menatap langit-langit senja yang tidak biru. Aku akan menjadi lumba-lumba Luna, berkulit biru dan bernafas dengan paru-paru. Berteriak “ Ouu’’…” dengan lengking tinggi sambil melompat ke udara, menyibak air laut pada sebuah malam bulan purnama. Aku akan menunggumu dengan setia.
Aku akan terus menerus melompat ke udara dari dalam air sepanjang malam, sampai engkau mendengar suara “Ouu’’”dengan lengking tinggi dan suara air yang berkecibak. Mungkinkah engkau akan kembali Luna.
Pada sebuah pantai yang berbau harum bunga-bunga. Aku telah larut pada langitnya yang senja oranye. Aku selalu tertarik kepada apa yang membuatmu tertarik Luna. Saat kau mendengar lagu-lagu Jazz, aku ikut mendengarkan lagu-lagu Jazz. Saat kau tertarik Regae, aku juga menikmati lagu-lagu Regae sambil bergoyang seperti orang-orang Jamaika. Saat kau menikmati lagu-lagu aksi, akupun menikmatinya, kesetanan dan berteriak-teriak saat bahan bakar minyak dinaikkan harganya. Dan ketika kau termangu melihat senja yang membuat orang-orang merasakan rindu, sendu dan perasaan kehilangan. Aku ikut-ikutan larut pada senja itu. aku masih ingat saat itu, ketika perasaan cemburu tiba-tiba muncul karena dirimu lebih dekat pada suara riuh debur ombak, cericit burung camar dan langit senja yang berwarna oranye kemerahan. Engkau bahkan tidak sepenuhnya mendengarkan saat aku berkata, “ Aku akan menjadi lumba-lumba”
***
Setelah engkau entah ada dimana Luna. Engkau tidak mendengar ketika setiap malam bulan purnama aku melompat dari dalam air sambil berteriak “Ouu’’ ” dengan lengking tinggi sambil bernafas dengan paru-paru. Dan membuat suara air berkecibak.
Aku sangat kesepian Luna. Aku tidak mengerti bahasa ikan di samudera yang luas dan dingin. Kadang ikan badut menyapaku, tapi tetap tidak kumngerti bahasa mereka, ikan cucut yang banyak bicarapun, tidak kumengerti apa yang dibicarakannya. Ikan Hiu yang pemarah ketika melihatku selalu termangu, aku tidak mengerti makiannya.
Aku hanya ingin menunggumu Luna, sambil membuktikan ucapanku dulu, mungkin jika kita bertemu nanti, aku akan berkata, “lihatlah Luna, seperti kata-kataku dulu, aku akan menjadi Lumba-lumba”. Aku hanya bisa kembali ke pantai itu. Pantai dimana engkau dan aku termangu memandang senja.
Aku akan menunggumu Luna. Menunggu sampai senja itu datang lagi. Menunggu pada pantai dan tempat yang sama. Pada pasir yang sama dibawah pohon kelapa yang baru-baru ini tumbuh disana. Aku akan mengejutkanmu Luna, begitu kau datang, aku akan langsung berteriak, “Ouu’’ “ dengan lengking tinggi sambil menggelepar-gelepar di pasir, karena aku telah menjadi lumba-lumba Luna.
Lalu setiap orang di pantai itu memandangku aneh. Pikirnya aku ini makhluk aneh mungkin. Apa mereka lupa, aku juga bernafas dengan paru-paru. Dan aku masih dapat mendengar tatkala mereka beramai-ramai berusaha mengangkatku sambil berucap, “Ayo kita selamatkan”. Mereka begitu bersemangat dan mereka sama sekali tidak mengerti bahwa mereka akan membunuhku jika menjauhkanku darimu. Aku sedang menunggumu Luna. Datanglah !!!
Orang-orang menjadi heran ketika setiap mereka membawaku, setiap kali itu pula aku kembali ke pantai itu, pada tempat yang sama untuk menunggumu.
“ dia akan mati….dia akan mati…..” mereka sudah menyerah, karena dapat kulihat dari wajah-wajah mereka yang lelah. Mereka yang ada di pantai itu beramai-ramai mengerumuniku, kemudian untuk terakhir kalinya aku melihat langit-langit senja pada pantai yang berbau harum bunga-bunga. Senja yang sama, Luna. “Luna, aku akan menjadi lumba-lumba. “ (Malang, gombong 28-10-2008)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar