Jumat, 22 Oktober 2010

Puitisasi Kematian

Mengawan karya Amir Hamzah
Rengang aku dari padaku, mengikut kawalku mengawan naik.
Mewajah kebawah, terlentang aku, lemah lunak, kotor terhantar, paduan benda empat perkara.
Datang pikiran membentang kenang, membunga cahaya cuaca lampau, menjadi terang mengilau kaca.
Lewat lambat aku dan dia, ria tertawa, bersedih suka, berkasih pedia, bagi merpati bersambut mulut.
Tersenyum sukma, kasihan serta.

Benda mencintai benda. . . . . . . . . .
Naik aku mengawan rahman, mengikut kawalku membawa warta.
Kuat, sayapku kuat, bawakan aku, biar sampai membidai-belai cecah tersentuh, di kursi kesturi.



Terjemah puisi
“Rengang aku dari padaku, mengikut kawalku mengawan naik” si penulis berbicara tentang kematian, terpisahnya roh dari raga,.‘mengikut kawalku’ mengikuti sang pencabut nyawa

“Mewajah kebawah, terlentang aku, lemah lunak, kotor terhantar, paduan benda empat perkara” seakan roh yang naik melihat kebawah, memandang kembali raga yang terlentang, lemah lunak, kotor. Empat perkara bisa jadi empat sisi peti mati, empat sisi keranda atau empat orang yang membawa kekubur.

“Datang pikiran membentang kenang, membunga cahaya cuaca lampau, menjadi terang mengilau kaca.” Seolah jiwa itu melihat kembali seluruh hidup dalam kilatan-kilatan cahaya

“Lewat lambat aku dan dia, ria tertawa, bersedih suka, berkasih pedia, bagi merpati bersambut mulut.” . Aku= Roh, dia= raga, ketika masih hidup, roh dan raga melewati banyak hal dan sangat dekat ‘bagi merpati bersambut mulut’.

“Tersenyum sukma, kasihan serta.”
“Benda mencintai benda. . . . . . . . . .” roh mencintai raga,
“Naik aku mengawan rahman, mengikut kawalku membawa warta.” Roh yang naik ketempat setelah kematian.
“Kuat, sayapku kuat, bawakan aku, biar sampai membidai-belai cecah tersentuh, di kursi kesturi.” Kata-kata ini seolah menguatkan diri untuk menghadapi kehidupan setelah mati, dan berfikir optimistis

Keseluruhan puisi adalah tentang kematian. Puitisasi kematian untuk mengenang sebuah akhir perjalanan semua maklhuk yg pernah hidup, semua akan mati. Kematian perlu selalu diingat seperti puisi yang dibacakan para penyair. Dan ini adalah puisi yang berbicara tentang kematian. Mengantarkan jiwa yang terbang Mengawan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar