Senin, 10 Januari 2011

“Stasiun TV jangan kapitalis, kampanyekan safety riding!!!” (blogger for safety riding)

Mungkin saya seorang penakut, kolot, dan tidak gaul. Saya selalu berusaha memakai helm ketika berkendara, tidak peduli seberapa dekatnya. Kecepatan motor selalu berkisar antara 40-60 km/jam. Jarang sekali sampai diatas batas itu. Tentu saja aku tidak bisa membanggakan dua hal ini kepada teman-temanku. Seringkali yang mereka banggakan adalah sesuatu yang lebih ekstrem, sesuatu yang menurut mereka menunjukkan keberanian mereka menantang bahaya. Prinsipnya adalah semakin besar risikonya semakin bisa dibanggakan, begitulah anak muda. Darahnya berapi-api, kata bang haji Rhoma Irama.



Seorang teman pernah bercerita dengan bangga, “Kemarin aku ngebut, aku balapan sama Ninja”. Ketika kami yang mendengar cerita tersebut sedikit menengok motor temanku yang bercerita itu. Motornya telah “luka-luka”, ada beberapa bodi yang penyok. Dan ternyata kisah lengkap balapan tersebut adalah, temanku itu menabrak pagar besi pembatas jalan, tidak heran! karena matanya memang sedikit kabur kalau malam hari. Sudah nabrak, kalah pula dari si Ninja. Untungnya temanku itu tidak mengalami luka sama sekali, sungguh suatu keajaiban. “kasian Motornya” komentar temanku yang pecinta otomotif. Motor bagus-bagus jadi penyok.

Di lain kesempatan, ada teman yang super ugal-ugalan. Ia selalu merasa ilmu ngebutnya sedemikian hebat. Si ugal-ugalan ini dengan PD menenteng segelas kopi sambil mengendarai sepeda motor. Coba bayangkan, tangan kanan memegang stang sepeda motor, tangan kiri memegang segelas kopi. Aku sempat panik tentu saja, ketika dia memboncengku. Dugaanku adalah, dia ingin meniru salah satu adegan action dimana seorang pengemudi hebat berhasil memenangkan balapan tanpa menumpahkan secangkir espresso di dasbor mobilnya.

Saya selalu bertanya, kenapa menantang bahaya selalu dibanggakan di jalan raya? Helm hanya dipakai untuk menghindari ditilang polisi, bukan lagi untuk tujuan keselamatan dan melindungi kepala.

Satu hal yang saya cermati adalah media massa, khususnya televisi, gagal melakukan kampanye safety riding kepada masyarakat. Televisi sebagai media paling diminati masyarakat punya tanggung jawab besar untuk mengajak masyarakat melakukan hal-hal yang benar demi kebaikan bersama. Salah satunya adalah mengajak masyarakat untuk melakukan gerakan berkendara yang aman (safety riding). Sudah saatnya stasiun-stasiun televisi tanah air berhenti berfikir ala kapitalis yang mementingkan keuntungan materi belaka. Sudah saatnya para owner stasiun tv menunjukkan harkat martabatnya sebagai manusia dengan tidak melulu memenuhi tayangan-tayangan layar kaca dengan tontonan sampah. Tontonan sampah yang saya maksud adalah tayangan-tayangan murah yang minim kualitas, sudah tentu minim kualitas karena digarap dalam tempo singkat dengan bajet rendah. Belum lagi acara-acara gosip yang tidak bermanfaat dan sinetron-sinetron dengan cerita hasil plagiat sana-sini. Semua itu hanya demi mengejar keuntungan belaka.

Perilaku menentang bahaya dijalan raya yang banyak dilakukan anak-anak muda adalah suatu bentuk kegagalan media massa, khususnya televisi (karena begitu dominan di masyarakat). Mereka gagal dalam mengajak masyarakat melakukan gerakan berkendara aman di jalan raya. Mereka gagal mengkampanyekan safety riding. Jadi, salah satu bentuk kampanye safety riding, mari kita demo stasiun-stasiun TV besar supaya mengalokasikan jam tayang mereka untuk ikut mengkampanyekan safety riding. Dan salah satu gerakan demo itu anda bisa mendesain stiker sekehendak hati anda, dengan tulisan. “Stasiun TV jangan kapitalis, kampanyekan safety riding!!!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar