Senin, 07 Februari 2011

Lagu Tanpa Nada

(Untukmu Odelia)

Odelia yang baik. Saat pertama kali kamu ingin memberitahuku tentang dia. Aku sangat tahu betapa bahagianya kamu, betapa berbunga-bunganya hatimu, karena memang kepadaku kamu seringkali bercerita tentang banyak hal. Aku mulai memahamimu Odelia.

Odelia yang baik. Aku juga turut bahagia saat itu. Saat tahu kau berhubungan dengan lelaki itu. Aku juga tahu benar, lelakimu itu tidak akan pernah menyakiti wanita dengan mulutnya, tidak pula dengan semua yang ia miliki. Kamu sangat tepat, ia berhati lembut.



Odelia yang baik. Katamu, “kakak, hari ini aku sangat bahagia. Tidak pernah ada seseorang yang memperhatikan aku seperti dia” sekali lagi aku turut bahagia.

Odelia adikku. Semua cepat sekali berubah, tiba-tiba kau menangis dihadapanku ,dibawah anak tangga rumah kita “kakak,….” Kamu hanya tersedu sedan tanpa mampu lagi berkata apapun. “apa yang terjadi ?” tanyaku yang kemudian tertelan sedu sedanmu. Kamu masih tidak sangup bercerita tentang apapun. Kali ini aku tidak mengerti Odelia, lelaki itukah?atau ada yang lain.

Odelia yang baik. Kakakmu ini langsung saja terbakar amarahnya melihat air matamu. Kakakmu ini hanya mampu berpikir tentang caci maki, kekerasan dan perang. Kakakmu ini terlalu banyak menghisap kebencian dalam dadanya Odeliaku. Aku tidak mengerti jalan pikiranmu tentang cinta.

Oh,…… genderang perang telah ditabuh para Danyang dalam alunan yang benar-benar membutakan. Sumpahku adikku, mereka akan membayar dengan air mata juga.

Odelia yang baik. Kali ini aku benar-benar mengakui kamu hebat. Kamu melarangku, lalu kau menangis lagi dipundakku. Oh adikku, apa kata ibu kalau aku tidak mampu membalas air matamu, ibu yang menyuapiku dengan kasih sayangnya, apa katanya nanti. “ini bukan tentang kebencian dan pembalasan kakak, ini tentang cinta, ini tentang ketulusan, ini tentang sesuatu hal lain, pengorbanan untuk cinta itu sendiri”. Aku menelan ludah oleh kata-katamu yang tidak kumengerti. Oh Odelia, odeliaku yang baik, Odeliaku yang hebat, (lalu lelaki itu mulai sering menerawang jauh hanya karena ia tidak mampu memandang wajah sedih adiknya).

2 komentar:

  1. huhuhuu....bagus tapi sedih...

    btw, link mu udah tak pasang di blogroll esa

    BalasHapus
  2. @ asal: makasih banget ya,.....
    ntar linkmu jg ta pasang di blogroll

    BalasHapus