Dalam hidupku yang singkat ini. Aku tidak pernah benar-benar bisa mencintai siapapun, bahkan diriku sendiri. Tidak heran aku begitu gampang memegang botol-botol haram yang memabukkan, serbuk putihpun kerap kali mewarnai pandangan mataku. Semua kabur, semua samar dan semua begitu abu-abu.
Yang begitu kuingat dalam kepalaku adalah sebuah memori tentang ayunan tangan yang mengarahkan bibir botol mendekat kehidungku. Aroma yang begitu akrab itu adalah udaraku. Lalu kau bilang bahwa aku begitu asik dengan duniaku, aku melupakanmu. Tidak, itu tidak benar.
Hidupku telah kosong Odelia, tapi aku masih mengingatmu dengan jelas, selain ayunan tangan itu tentunya. Engkau adalah segalanya bagiku Odelia. Engkau dan wajahmu yang cemberut tiap kali melihatku mabuk. Engkau yang gigih memapahku dan kemudian menyelimutiku dibalik selimut yang tebal. Aku masih mengingatnya dengan jelas. Engkau adalah segalanya bagiku.
Odelia sayangku, engkau selalu bertanya tentang seseorang yang selalu ada dalam tiap cerita yang kutulis maupun kuceritakan dengan lisan kepadamu. Dia adalah bintangku Odelia, bintang yang tertancap di langit-langit hidupku yang sekarang ini kelabu, mendung dan turun hujan setiap harinya. “kenapa engkau tidak menangkapnya ayah?”ucapmu suatu hari dan aku hanya tersenyum mendengarnya. “Banyak alasan sayang sehingga aku membiarkannya pergi, banyak alasan” jawabku kepadamu.
Odelia yang manis, engkau adalah segalanya bagiku sekarang. Ia satu-satunya bintang paling terang di langitku Odelia, langit yang sengaja kubuat kelam supaya ia bersinar terang. Bintang hanyalah bintang, anggan-anggan tentang segala yang bersinar, harapan, impian, dan kehidupan yang indah. Tidak Odelia, bagiku itu semua hanyalah untukmu bukan untukku. Bagiku, yang tersisa hanyalah bintang yang semu.
Mungkin setiap kali kau memandangku, kau akan berwajah cemberut. Mata, hidung, tangan, alis, dan semuanya mengisyaratkan hujan yang turun setiap harinya di hari-hariku yang mendung, mengguyur tanpa henti demi membasahi segumpal hati, tersembunyi dibalik dadaku. Ayolah tersenyum Odeliaku sayang, biarkan aku mati dengan tenang dalam hari-hariku yang setiap detiknya turun hujan, ayolah tersenyum.
***
Ayah. Sewaktu kecil mereka bilang aku adalah bayi yang dibuang. Tapi kau bilang aku bukan bayi yang dibuang, engkau lalu bercerita tentang bangau-bangau yang terbang dari surga sambil membawa bayi dalam selimut biru. Dalam perjalanan, berat tubuh bayiku membuat selimut biru itu sobek dan akhirnya aku jatuh kebumi. Hari itu langit mendung dan hujan turun deras, engkau sengaja menyambut hujan itu dengan wajah dan kedua lenganmu menengadah kelangit. Saat tubuh bayiku mendekap di kedua lenganmu, hujan berhenti sejenak dan matahari bersinar sangat terang. Lalu aku tersenyum padamu.
Ayah. Engkau adalah segalanya bagiku. Bintangku. Walaupun bintang sesungguhnya dalam hidupmu bukanlah aku ayah. Aku tahu bahwa tiap hari hujan turun dengan deras dan engkau tidak punya tempat berteduh ayah, aku tahu. Aku juga tahu bahwa kau menengadahkan tangan sengaja menyambut hujan itu dengan kedua lengan dan telapak tanganmu. Aku ikut bersedih ayah, saat tempo hari aku melihat cerukan batu yang tiap harinya ditetesi air, aku bersedih ayah. Batu itu terkikis sebagaimana jiwamu.
Ayah, aku selalu cemberut melihat kekuyuan dan jiwamu yang perlahan-lahan mengikis dan semakin kempis. Aku ingin menangis ayah, tapi aku takut tangisku semakin menambah deras hujan yang mengguyur duniamu.
Baiklah aku ceritakan hal lain ayah. Kemarin seorang pemuda menyatakan cintanya kepadaku, lalu aku hanya bisa mengejeknya dengan sumpah serapah. Tapi ayah, apa kau tahu, ia hanya tersenyum mendengar serapahku. Lalu suatu malam ia mengajakku melihat bintang jatuh, saat itu aku hanya bisa mengingatmu ayahku, aku menangis malam itu. dan mengusir pemuda itu pergi.
Aku telah bertekad ayah, aku akan mengembalikan bintang di langit-langitmu yang kelabu, mendung dan turun hujan deras setiap harinya. Berikan akau sebuah nama ayah. Aku akan mencarinya keujung dunia. Aku akan mengejarnya.
Ayah, engkau hanya tersenyum mendengar permintaanku yang kau anggap tolol. Biarkan aku pergi menangkapnya ayah, bintangmu itu, dimanapun ia akan kudapatkan, akan kukejar demi rasa sayangku padamu.
“jangan Odeliaku sayang” itu yang kau katakan padaku. Lalu wajahmu menerawang entah kemana, matamu yang biru berkaca-kaca dan mulutmu berucap lirih. “hari telah hujan, berteduhlah dulu”.
***
Dalam hidupku yang singkat aku tidak pernah benar-benar bisa mencintai siapapun. Cinta adalah nisbi, tapi ia ada.
Hujan turun lagi tiap kali aku membuka mata dan mendapati diriku basah kuyub dalam guyuran hujan. Dan dalam detik-detik pertama aku selalu ingin mendengar suaranya mengucapkan kata itu, “berteduh dulu, hujan”.
Odelia, mungkin kau tidak tahu, bahwa diam-diam akulah yang menciptakan hujan. Aku sengaja karena ingin mendengar suara wanita itu didalam kepalaku, “hari telah hujan, berteduh dulu”. Aku ingin mendengarnya setiap hari, setiap waktu. Itulah sebabnya hujan turun tiap hari dalam hidupku. Engkau cukup melihat dari kejauhan saja Odelia, biarkan aku mendengar bisikan kata-kata itu ditelingaku. Aku merindukannya Odelia, hujanpun tidak sanggup memadamkan kerinduan.
Aku melarangmu mencarinya Odelia. Biarkanlah bintang itu berada di tempatnya. Mungkin saja saat ini ia bahagia dengan lelaki lain. Laki-laki yang melindungi dan bisa diandalkannya, bukan seorang pemabuk seperti aku. Mungkin kau anggap aku terlalu cenggeng Odelia. Hahahahaha, mungkin kau benar.
Odelia sayangku, engkau benar. Harusnya aku merebut hatinya saat itu. Saat bintangku itu masih bersinar ditempatnya. Saat semuanya masih tampak begitu terang, tidak kelabu. Kau juga pernah bertanya Odelia, “apakah wanita itu cantik”.
“ya, dia cantik sekali Odelia, tapi kamu lebih cantik darinya”, lalu kau tersenyum.
Saat itu adalah saat paling mengembirakan dalam hidupku. Ketika kita duduk berdampingan diatas loteng, melihat langit yang dipenuhi bintang-bintang. Aku masih dapat mengingatnya dengan terang dalam duniaku yang semuanya kelabu, engkau yang bersandar dipundakku dan bintang yang berkelip-kelip diatas sana.
Odelia, Langit malam-pun suatu ketika akan berganti terang, hujan ini akan berhenti dengan sendirinya suatu saat nanti dan langit-langit yang serba kelabu juga akan tersapu suatu saat nanti, entah kapan.
Dalam hidupku yang singkat aku tidak pernah benar-benar bisa mencintai siapapun Odelia. Cinta adalah nisbi, tapi ia ada. Begitu pula dengan ayunan tangan itu, berkali-kali mendekatkan bibir botol kemudian bau alkohol menyeruak dan seketika hujan turun dengan derasnya, membasahi dinding hatiku yang berkali-kali dihantam rindu. Aku hanya berdiri disana, menengadahkan kepala dan kedua tanganku menyambut hujan. Menunggu bisikan kata-kata itu lagi didalam kepalaku, “hujan!!!, berteduhlah dulu!”.
kayaknya lagi doyan dengan nama Odelia nih, mas?
BalasHapuscerpennya bagus-bagus, ikutan lomba buat cerpen ma FF yuks, lagi beteran tuh di FB
makasih Kasma,... iya, Odelia itu kedengaran manis kan,... hehehehe
BalasHapus