Mari kita lihat pendidikan sebagai sesuatu yang holistik, kegiatan seumur hidup tentang mengetahui sesuatu yang baru, memperdalam pengetahuan dan keinginan untuk menjadi seorang ahli. Saya tidak suka dengan pola pendidikan kita. Kebanyakan adalah pemberian pengetahuan secara monoton. Murid mana juga yang mau menganggap dirinya sebagai gelas kosong. Maksud saya adalah harusnya inti dari pendidikan adalah merangsang siswa untuk berfikir secara mendalam tentang apa yang ingin dipelajarinya. Harus ada kebebasan menentukan pilihan disana, bukan Cuma mencekoki mereka dengan sesuatu yang mereka sangat anti.
Mari kita perjelas sedikit, kurikulum di Indonesia saat ini mengharuskan siswa SMA untuk belajar sekian mata pelajaran dan mengharuskan mereka mendapat nilai sekian sebagai standar untuk dinyatakan lulus, itu konyol. Pembagian jurusannya juga begitu jurusan dibagi dalam paket-paket IPA, IPS dan Bahasa, apa itu maksudnya? Artinya bahwa dalam paket-paket tersebut terdapat suatu pemaksaan mereka harus mempelajari sesuatu dan bisa jadi para siswa tidak menyukainya. Satu hal bahwa, dengan demikian kurikulum kita tidak mengajarkan Demokrasi, bagaimana kita mau hidup dalam demokrasi kalau begitu. Mana hal tentang kebebasan memilih? Mana hal tentang kedewasaan berpendapat? Dan mana hal tentang menghormati perbedaan? Tidak ada itu dalam pendidikan Di Indonesia ini. Yang ada hanya penyeragaman yang konyol dan standarisasi yang tidak pada tempatnya.
Saya setuju dengan pendapatnya bahwa anak SMA tidak seharusnya diperlakukan sebagai anak TK. Usia SMA harusnya sudah mulai dengan diberi kepercayaan memilih apa yang akan dipelajarinya, sederhana seperti kurikulum yang ada di perguruan tinggi. Terus terang saya merasa memperoleh suatu kedewasan berfikir yang telat karena kebebasan akademik saya diperoleh ketika masa kuliah. Ya, sangat telat sekali dan entah bagaimana nasib teman-teman saya yang tidak sempat mengenyam pendidikan di perguruan tinggi.
Satu hal lagi bahwa semua pemaksaan tidak ubahnya dengan kekerasan. Pemaksaan akademik akan menimbulkan beban mental dan trauma akademik, saya menemui banyak teman yang berhenti belajar sesuatu dan sangat anti pati terhadap hal itu. Menurut saya sedikit banyak ia trauma dengan pemaksaan mental berhubungan dengan beban akademis yang harus dilaluinya.
Kurikulum yang berbasis pada pemaksaan tidak akan pernah berhasil. Seseorang akan sulit berhasil mencapai suatu pencapaian akademik yang tinggi apabila pada dasarnya ia terpaksa dan dipaksa. Saya kira sudah waktunya bahwa anak SMA diberi kebebasan, kemerdekaan dan kebahagiaan untuk menentukan apa yang dipelajarinya? Siapa yang mengajarnya? Dan seberapa lama ia mempelajarinya? Akibatnya mungkin akan menimbulkan macan abu-abu yang tidak lulus-lulus, tetapi kenapa tidak, bukankah masa SMA adalah masa paling indah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar