Sabtu, 19 Maret 2011

Sang Dewi dan Kambing


Part II

‘Ajaib, ia bicara denganku’ pikir si Bankek. Gadis  itu mengeluarkan kata-kata, “Aku Ines ” sambil mejulurkan tangan mengajak salaman.

Anehnya Bankek hanya mengulurkan tangan saja, menjabat tangannya tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Ia terlalu grogi saat itu, padahal seharusnya Ia berkata ‘aku Bankek, eh bukan, aku Ari tapi anak-anak disini memanggilku Bankek’ tapi kata-kata itu tidak keluar, Bankek hanya memandang angkuh sambil diam. Mengawasi seorang Dewi yang ternyata memiliki sebuah nama, Ines.


“jadi, kamu tidak bicara?” ia terdiam lama” Bisu?” tanya Ines kaku, “kamu gak gigit kan?hehehe” ia ngajak becanda. Seperti seorang Dewa, Bankek hanya memandangnya, ‘padahal kan aku kambing,.. kambing yang pura-pura menjadi Dewa, ini semacam taktik supaya seorang Dewi bicara padaku’ sebuah pemikiran aneh dari seorang Bankek.

Bibir Ines monyong-monyong, mungkin dia sedang berfikir keras untuk mengatasi situasi ini. Tentunya ia tidak mengira akan berhadapan dengan kambing yang pura-pura menjadi Dewa,....
Dengan ragu Ines mulai mengangkat kakinya... berjalan menjauh. Satu hal yang Bankek khawatirkan selain bau badannya yang seperi kambing, adalah ‘bagaimana memulai pembicaraan ini?’.
“Ines” Bankek memanggil. Ines berbalik dengan wajah takjub, seolah baru saja berhasil membuat seekor kambing mengeluarkan kata-kata.
“kamu gak bisu kan?”ines tersenyum, lalu seperti teringat akan sesuatu ia bertanya dengan cepat, “kamu juga gak idiot kan?”

Keputusan hebat dari Geng Ines dalam perdebatan tempo hari adalah mereka akan menanyakan langsung pada Bankek sebuah pertanyaan besar yang selama kemaren mereka perdebatkan, sebuah pertanyaan luar biasa yang perlu diluruskan “Bankek ini Idiot atau bukan?”

Pertanyaan itu membuat Bankek bingung bagaimana menjawabnya. Selama setahun ia bersekolah dan dianiaya lebih dari dua kali tiap semester tanpa ada seorangpun yang mengajak bicara, tiba-tiba seseorang menanyakan kepadanya, ‘ia idiot bukan?’, bravo!!!, sebuah sekolah yang keren dengan reputasi menyamai lapas anak.

Melihat Bankek berdiri canggung, Ines tersenyum kaku, “Gak kok, aku becanda,.. aku tahu kamu gak idiot? Gak gigit dan gak rabies” dia nyengir lalu cepat-cepat pergi. Setelah Ines si Dewi pergi, hidup Bankek kembali pada dua kata, lenggang dan sepi. Tidak terasa air matanya menetes. Bukan karena sedih, tapi karena bahagia.

to be continued,....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar