Hari kamis yang ajaib, tanggal 3 Maret 2011, saya merasa harus segera berangkat ke Malang. Kalau ada pertanyaan? Untuk apa ke Malang? Saya juga bingung menjawabnya karena memang kurang lebih tidak ada yang saya ketahui tentang tujuan saya kesana. Hanya terbawa perasaan harus kesana.
Setiba dikota Malang, tempat pertama yang saya kunjungi adalah markas SSO (Sosial Secret Organization). Tanpa diduga disana saya bertemu seorang editor sebuah surat kabar ternama. Iya, seorang teman saya telah menjadi editor. Interesting!
Kami seperti teman lama yang penuh dendam dan rindu yang terpendam (yang ini kalimat kege-eran saja)! kami bercerita tentang lumayan sedikit hal.
Hal pertama yang masih diingatan saya adalah bahwa ia menilai jabatan editor-nya sebagai jabatan prestisius yang bergaji rendah. Komentarku adalah, “Well! kalau begitu aku ini tenaga hibah”. Begitulah jika engkau membandingkan gaji editor dengan gaji guru honorer, tenaga hibah!. Tapi kan tidak semua hal dinilai dari uang. Aku tidak butuh uang. Tapi sangat butuh!!! Hanya saja aku tipe orang yang acuh, toh hanya kertas. Apa pentingnya (penting bego!!!)
Oke! Lupakan masalah uang dan gaji, sekali-kali jangan matrealistis.
Percakapan kami berlanjut sampai pada kekuatiran teman editorku itu jika nantinya posisi sebagai editor mempengaruhi skill menulis sastranya. Adakah pengaruhnya? Menurutnya ada. Argumennya, ketika seseorang terlalu sering berpikiran tentang bahasa baku dan kata-kata yang sesuai aturan, hal itu akan mempengaruhi keliaran imajinasinya (bahasanya keren ya). Hasilnya ia terbelenggu dan ketika menulis cerpen, hasil akhirnya ternyata essai. Wah kalo menulis puisi jangan-jangan keluarnya judul skripsi!!!.
Dari percakapan dengan teman itu, aku jadi tahu beberapa bahasa yang salah. Seperti ‘dirubah’ seharusnya ‘diubah’. Kata-kata yang lain lupa!hehe... tapi kalau ‘dirubah’ kata dasarnya apa donk,.. Rubah!!! Binatang donk.
Setelah urusan tata bahasa selesai. Temanku itu sibuk dengan urusan pacarnya. Betapa repot kelihatannya.
Malamnya aku melewatkan dengan ngopi (ngoreksi pikiran) dengan dua orang teman dari SSO. Kami membicarakan banyak hal yang ngalor-ngidul gak ada arahnya. Lumayan buat menghilangkan kepenatan.
Ngopi selesai sekitar jam dua belas. Saat kembali ke markas SSO, seorang teman sedang asyik melihat film. Sebuah film tentang penjagalan manusia oleh nasib, judulnya ‘Final destiny’. Ternyata temanku itu tidak cukup kuat untuk melihat film sampai akhir. Tidak kuat secara fisik dan mental. Aku lanjut sendirian. Hanya saja filmnya kuganti. Aku juga tidak cukup kuat mental melihat darah berceceran di layar kaca. Film yang kulihat judulnya ajaib. ‘ ghost writter ‘. Khusus film yang sangat menarik ini, aku akan ceritakan nanti.
Hari jumat, 4 Maret 2011. sholat Jum’at, aku bukan orang yang religius. Tapi Cukup religius untuk sepenuhnya percaya kepada tuhan dan curhat kepada-Nya. Mengapa aku masih jomblo? Mengapa masih seperti ini, dan masih banyak orang miskin di Indonesia sementara pemimpinnya ribut masalah pelesiran dari satu pesta ke lain pesta. Kaum yang suka pesta juga banyak, masalahnya sangat jauh lebih banyak yang kebutuhan primer saja tidak terpenuhi. Oke cukup, setumpuk ketidak puasan jangan sampai menghiasi hari jum’at yang indah. Cukup masalah jomblo dan berharap punya cukup uang saja.
Aku mengunjungi seorang teman setelahnya. Ditempat temanku itu lagi-lagi aku melihat film. Kali ini bergenre drama. Film drama Jepang yang keren judulnya ‘tears,....’ hehe, lupa! Selesai liat film, langsung cabut! Pamitan pulang ke jombang.
Perjalaman pulang semakin berat karena hujan sementara aku tidak membawa jas hujan. Jadilah aku berbasah basah ria.
Sekedar mengisi perut diwarung pinggir jalan. Tanpa disangka-sangka yang punya warung ternyata cantik. Tante-tante yang ramah, berambut lurus dengan wajah oriental. Acara makan-makan selesai, siap melepaskan selembar uang yang hampir satu-satunya. Melihatku si tante bilang, “kok wajahnya kelihatan pucat?!”. Aku Cuma nyengir, ya beginilah kalau berkendara selama tiga jam dengan badan capek, tidur Cuma empat jam lalu berkendara tiga jam lagi dalam keadaan hujan. Nah, masih untung Cuma wajah pucat.
Sampai dirumah pukul tujuh malam. Aku masih tidak tahu, kenapa aku melakukan perjalanan ini. Ajaib bukan. Jangan-jangan hidup kita seperti itu. Tidak tahu alasan untuk apa kita hidup?!.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar