Saat itu aku belum mengenalnya. Aku serasa mengenalnya dalam penderitaan, pengorbanan, ketulusan dan cinta. Ah, kata-kata yang terlalu klise. Sebenarnya tahu dia tengah malam bulan Ramadhan, malam yang khusuk dan anggun. Cerita yang sangat mengagumkan. Dan saat itu aku belum tahu namanya, baru hari ini aku tahu si pendongeng itu bernama Syahrazad.
Wanita itu merelakan diri menjadi istri seorang Sultan yang betul-betul telah sinting. Kesintingannya bermula dari penghianatan saudara dan istrinya yang terdahulu.
Saudara laki-lakinya merencanakan sebuah pemberontakan dengan membunuh sang paduka raja. Ia juga berselingkuh dengan istri sang sultan. Setelah mengetahui itu semua, sang sultan menjadi sedikit sinting.
Kesintingan Sultan dilampiaskan dengan menikahi gadis-gadis muda lalu membunuhnya setelah malam pertama.
Lalu dia muncul, menghentikan kesintingan Sultan. Wanita itu bernama Syahrazad. Tahukah apa yang dia lakukan? Dia belajar pada seorang tua dikota, tentang sesuatu yang menarik. Pada malam pertama ia menceritakan sebuah dongeng kepada sang sultan, dongeng yang menggantung tidak selesai saat fajar. Begitu seterusnya untuk menyelamatkan kepala Syahrazad. Ia harus sangat piawai dalam bercerita dan membuat sang sultan penuh dengan rasa ingin tahu, atau ia bakal mati.
Kini dongeng-dongeng yang diceritakan Syahrazad itu dikenal dengan cerita seribu satu malam.
Kita adalah para pewaris Syahrazad. Menulis cerita yang sangat menarik, atau kepala kita dipenggal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar