Kegilaan itu melelahkan! Aku tidak lagi sanggup tergila-gila padamu. Aku lebih memilih mabuk, larut lumpuh dalam dirimu sepenuhnya. Sekali lagi, aku memilih mabuk.
Tentang amarah !. Betapa marah aku melihat para pengecut yang menelanjangi negeri ini, lalu kabur keluar negeri seperti para pengecut lainnya. Betapa putus asa aku melihat kemelaratan yang diumbar di jalan-jalan. Betapa muak aku dengan tikus-tikus yang membangun rumah megah diatas bangkai-bangkai. Dan ngotot membangun yang lebih besar lagi, diatas bangkai yang lebih banyak. Betapa menyedihkan hidupku yang penuh ketidak pedulian, pengabaian, terlantar dan terbakar dalam api yang memuakkan. Aku sudah cukup lelah dengan amarah.
Sekali lagi, aku memilih mabuk. Aku lebih memilih larut lumpuh dalam dirimu sepenuhnya.
‘kenapa begitu?apa menariknya diriku?akan ada seribu gadis lainnya yang serba lebih dariku?’ kau mungkin akan berkata seperti itu padaku. Dan aku mulai tidak berkutik untuk menjawabnya.bukan karena tidak ada jawaban dan aku hanya membual. Tidak! bukan seperti itu.
Bagi para pemuja kemabukan, mereka akan terbawa pada imaji rasa yang melumpuhkan syaraf-syaraf. Bagiku, dunia jadi berpendar dalam warna-warna cerah, sesuai rasa hatiku padamu. Aku bahkan lebih buruk dari para pemabuk. Kamu membuatku mengigau tentang banyak hal. Meracau tentang bintang-bintang, sayap angsa dan jarak kita yang merenggut koyak hatiku. Tentang hal-hal yang bahkan tidak mampu terucap dari bibirku, tentang bahasa-bahasa yang belum pernah kukenal sebelumnya. Tentang kegembiraan yang menelanku bulat-bulat. Semua itu selalu membawaku dalam mabuk yang tidak mampu kuterjemahkan.
‘kau membual, tidak pernah ada yang seperti itu.’ Tolong jangan berfikir seperti itu. Saat inipun aku sudah seperti orang kehilangan akal, hanya dengan memikirkanmu. Aku bahkan bercakap-cakap dengan diriku sendiri. Menjawabi semua pertanyaan yang kubuat sendiri. Bukankah itu lebih buruk dari orang mabuk.
Aneh! Aku menyukainya. Aku ingin memotetmu dalam sebuah gambar aura. Lalu kupajang dalam sebuah phigora. Sebuah citra dari keanggunan pribadimu. Mungkin aku semakin terdengar membosankan. Semoga kamu tidak bosan terhadapku.
Sepasang sayap angsa menggelepar dipunggungku. Jangan! Tidak usah bilang aku ini malaikat atau seperti malaikat. Sepasang sayap itu menandakan aku harus kembali pada angkasa yang telah melahirkanku. Terlebih dari itu, adalah pertanda aku harus berpisah darimu.
Percayalah bahwa hidup bukan sekedar sedih dan amarah. Hidup bahkan lebih besar dari apa yang kita miliki. Hidup lebih besar dari diri kita sendiri.
Aku tidak memintamu menahan air mata. Kesedihan juga perlu dirayakan sebagai pertanda kemelaratan hidup kita. Perayaan atas segala kejadian adalah kegembiraan yang samar-samar.
Aku akan memberitahumu tentang seorang yang kukagumi. Ia menolak kematian dengan melompat dari puncak monas sambil mendekap foto Munir.
Aku tidak lebih baik dari dia dan tidak pernah lebih baik dari siapapun. Aku tidak berani melompat dari atas gedung manapun. Aku hanya akan berubah menjadi angsa lalu terbang ke angkasa. Pergi dari kehidupan ini.
Goede Nacht!
( lalu dilangit, seleret cahaya bintang jatuh. Seorang Nona Belanda menangkupkan kedua tangan di dada, ia berdo’a ).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar