Malam sastra mengenang Rendra mengapa berakhir dengan kesimpulan tentang sampah? Apa Rendra sudah berubah menjadi aktivis lingkungan hidup? What!?.
Saya lebih tertarik untuk tahu berapa kali Rendra itu dipenjara karena membuat telinga pejabat jadi merah daripada berfikir tentang Rendra sebagai aktivis lingkungan hidup.
Ketika saya belajar tentang cerpen, banyak yang memberitahu saya untuk membaca karya-karya Seno Gumira Ajidarma. Menurut mereka tulisan-tulisan Seno gampang dipelajari, anehnya sampai sekarang saya belum merasa berhasil mempelajari tekhnik Seno Gumira. Dan disalah satu tulisan tentang Seno Gumira, seno mengungkapkan kekagumannya pada sosok Rendra. Bagi Seno, Rendra itu Bohemian, gondrong dan beristri cantik, contoh yang tepat gaya hidup sosok seniman. Kurang lebihnya begitulah yang pernah saya baca.
Rendra bagi saya adalah salah satu seniman yang karyanya berisi kritik sosial. Itulah yang menurut saya terlewat pada diskusi malam ini, yang temanya tentang membaca Rendra. Kritik sosial, atau saya ingin menyebutnya dengan istilah dialog kritis sosial. Itulah yang dilakukan Rendra selama ini. Ia mengekspresikan pemikiran kritisnya dalam bentuk sajak-sajak. Itu jelas karena Rendra punya keahlian membuat sajak. Kalau ia seorang penyanyi, kemungkinan ia akan menyanyi.
Tentang perkataan, “jangan omong doank, bertindak dong!”. Seseorang pernah berkata bahwa pekerjaan yang hanya bertindak dan tanpa omong itu ada dua, main catur dan maling. Saya lebih setuju tentang pemikiran bahwa ngomong dan bekerja itu harus seimbang, kadarnya proporsional seperti lekuk gitar spanyol yang seksi. Atau katakanlah omongan sebagai kritik, bahwa sepanjang pekerjaan itu dilakukan harus juga dilakukan pembaruan-pembaruan sebagai inovasi supaya didapat hasil yang lebih baik. Ide tentang pembaruan dan inovasi itu salah satunya adalah melalui kritik. Oleh karena itu kritik sama pentingnya dengan bertindak. Kritik sama pentingnya dengan perjuangan menuju pembaruan. Paling tidak kritik sebagai peringatan keras supaya tidak terjatuh pada lubang yang sama.
Pada suatu pertemuan pada acara monolog Butet Kertarajasa, seorang lelaki yang agaknya seorang politisi berkomentar bahwa kritik-kritik yang dilakukan akan membawa apatisme terhadap politik. Saya kira yang sesungguhnya membuat seseorang apatis adalah tidak adanya perubahan kearah lebih baik, bukan tentang kritiknya. Perubahan kearah yang lebih baik, itulah sesungguhnya yang diinginkan semua orang. Kritik sebagai alat perubahan akan berlaku seperti bumerang yang hanya mampu ditangkap mereka yang masih memiliki hati nurani. Bila tidak, bumerang itu akan mengenai kepalamu yang meninggalkan bekas merah seperti kena tampar pacarmu yang marah.
Saatnya semua orang menyadari pentingnya kritik dan perubahan. Bukan suatu yang mustahil bila muncul ribuan Rendra atau Gie yang senantiasa berdialog dengan lingkungannya secara kritis dan bersuara lantang, republik ini akan berubah menjadi lebih baik, atau setidaknya penuh dengan orang-orang berpipi merah, seperti kena tampar pacarnya.
Persetan dengan “Cuma omong doang”, saatnya bersuara kawan. Apapun suaramu! Bukankah di republik ini semua orang sama, sederajat dan berkicaulah sesukamu. Menyuarakan pendapat sama pentingnya dengan perjuangan menuju perubahan. Speak Up!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar