Sabtu, 21 April 2012

Tentang keputusasaan




Jauh sebelum aku berakhir dilubang sampah liang lahat aku ingin meracau sebentar bercerita tentang hal-hal yang aku alami, aku mimpikan dan segala yang mencekam dalam hidupku. Membuatku merasa lebih baik bersembunyi selama lamanya dalam dalam tanah.

Kopi. Aku sangat menyukai cairan kentakl hitam yang kubuat manis-manis itu. Begitulah aku tiap pagi selalu membuat kopi sampai suatu malam aku melihat makhluk yang muncul dari secangkir kopi yang hitam pekat. Ia berlendir dan menyeringai tajam dengan kuku-kuku panjang. Anehnya hal itu membuatku tertantang sehingga jangankan lari, aku menonton makhluk itu dalam mimpiku. Bukan bererti pula aku tidak takut. Aku sangat takut tetapi ada dorongan lain dalam diriku yang memaksaku untuk berdiri diam. Dan itu terjadi sepanjang malam. Hasilnya adalah mimpi itu menjadi sangat membosankan untuk dibicarakan. 


Mimpi paling manakutkan yang pernah aku alami adalah tentang sebuah bola. Bola menggelinding yang semakin lama semakin besar dan besar hingga seakan-akan melindasmu dan menjadikan apapun yang dilindasanya seperti tikus yang dilindas truk di jalan raya. Sewaktu kecil aku sangat ketakutan sampai-sampai ingin menutupi mata walaupun itu hanya mimpi. Aku berteriak seperti kesetanan minta matakau ditutup padahal aku sedang tidur. Lucu ya. Kini ketiika sudah dewasa aku melihat lagi mimpi seperti itu, hanya saja nasibnya sama. Aku terdiam termangu sambil menikmati sensasi ketakutan yang sama. Aku menikmatinya. Rasanya aku sudah tidak waras.
Di sebuah film kungfu aku pernah melihat karakter seperti itu. Seorang pria yang tidak bisa mengekspresikan dirinya. Ia diam saja ketika menyaksikan seluruh klannya dibantai habis. Entah kalau yang seperti itu. Apa karena ia malas? Atau karena hal lain.
Kalau tentang kemalasan, seharusnya memang dunia ini dijadikan seperti tempat penjual minuman otomatis yang tinggal pencet saja. tidak perlu memasukkan uang receh atau benda-benda aneh kedalam mesin penjual otomatis. 

Ditempatku sangat panas dan parahnya tidak ada yang bisa dikerjakan, sangat membosankan. Apakah ada sesuatu yang terlahir untuk menjadi sia-sia? aku membaca kalimat itu dari sebuah novel yang dibuang oleh orang yang tidak kukenal. Coba kau bayangkan, aku punya buku yang dipinjam seorang cewek cantik dan tiba-tiba buku itu dibuang oleh pacar si cewek itu. Konyol sekali ya. Cowok itu, si cewek dan sekaligus aku terlibat dalam suatu kekonyolan yang diderita dunia ini. Ini namanya sia-sia, coba bayangkan bagaimana nasib buku yang dibuang itu, ia berada di tong sampah dan tidak ada yang memungutnya, kalaupun ada pasti dijadikan barang tidak berharga yang disobek halamannya lalu dijadikan tisu toilet. Masih untung dijadikan tisu toilet, bagaimana kalau dipakai menghapus ingus.

Kalau dipikir-pikir aku punya segudang kisah bodoh seperti itu, yang menempatkan diriku dlam kekonyolan yang sia-sia dan berakhir dengan membuat diriku melihat tontonan kenangan yang memuakkan untuk selalu diputar dalam kepalaku dan aku merasa muak setiap saat.
Dua hari yang lalu aku mampir disebuah toko buku yang membuatku berfikir “aku akan menulis buku dan tidak berhenti menulis sampai selesai lalu memaksa orang-orang membacanya” semacam obsesi gila karena bertebarannya buku-buku yang gak mutu. Dan aku selalu tergelitik untuk membeli satudan membuktikan diriku benar, untuk apa aku membuktikan diriku salah. Premis A, aku selalu benar. Premis B, bila aku salah, kembali ke premis A. Buku yang akhirnya kubeli adalah Pocong. Padahal aku membelinya karena takut untuk mengambil buku berjudul biografi singkat Kurt Cobain. Alasanku adalah, aku tidak akan mati membaca pocong tetapi aku mungkin ingin mati ketika membaca tentang Kurt Cobain. Terkadang aku merasa punya kesamaan dengan Cobain seperti beberapa kata yang kubaca dibuku itu, ‘Cobain seorang yang lembut dan penyanyang’ begitu pula aku, tapi terkadang aku punya imajinasi sadis yang najis untuk diceritakan disini. Lalu belakangan aku tergila-gila dengan musik Cobail, aku mendengarkan banyak musik Nirvana, ada setumpuk di playlistku dan aku menyukainya. Pikiran-pikiran buruk menerorku setelah itu. Dahulu kala seorang guru pernah berkata bahwa anak penakut sepertiku akan berakhir mati bunuh diri. Kira-kira dia bilang begitu. Yang terjadi adalah ia mati duluan sebelum membuktikan ramalannya. Aku masih hidup, walau dengan rasa takut yang luar biasa, takut tentang hidup, takut tentang mati dan takut kepada Tuhan. Aku bersyukur juga diberi kelimpahan rasa takut yang terkadang membuat hidupku seperti sirkus.

Di buku biografi singkat Kurt Cobain ada kata-kata “ aku tidak akan berakhir menjadi orang yang naik ke atap dan ingin bunuh diri, tetapi aku benar-benar melakukannya. Tapi sebelumnya aku ingin bercinta dulu”. Aku juga membaca buku komik yang menyebut Kobain sebagai “Down to Eart man” mungkin artinya orang rendah hati yang membumi. Perlahan aku mengagumi Cobain.
Sekarang aku hanya termangu diambang sebuah pintu yang entah membawaku kemana. Semacam akhir hidup barangkali. Sebelum aku melangkah yang paling kuinginkan adalah menghadapi rasa takutku. Meninjunya sebagai seorang jantan. Menghajarnya sampai babak belur, atau membiarkannya menghajarku sambil tetap kuludahi wajahnya dan kunikmati kemenanganku. Kurasa itulah yang kuinginkan dengan menulis kisahku disini, sebagai bentuk perlawanan terakhir.
1.

Sensor, penuh sumpah serapah yang tidak pantas bagi anak-anak

2
Aku sibuk berkutat dengan kuliah dan terutama skripsi yang kuanggap gak penting. Aku berkubang dalam segala hal yang tidak penting seperti konsultasi ke dosen pembimbing dan melakukan penelitian yang tidak begitu penting. Satu-satunya hal yang rada penting saat itu adalah aku membaca biografi Soe-Hoek-Gie. Sosok yang menginspirasiku di kemudian hari. Justru ketika aku membaca buku tulisan-tulisannya. Yang paling aku sukai adalah bagian tentang bobroknya generasi tua. Kemana mereka? Berbuat apa? Dan tidur dimana? Kok Indonesia kacau seperti ini. Sedikit pesimistis dan gelap. Aku benci generasi tua.
Dengan mengerjakan kuliah dan skripsi aku ingin membuktikan kalau aku mau aku bisa lulus dan dapat gelar itu. Kalau aku mau. Jadi pada dasarnya aku lulus atau tidak itu karena memang faktor kesengajaan. Aku lulus kuliah lima tahun.
Aku suka slogannya anak UI di buku Hoek-Gie, “buku-pesta dan cinta” anak muda banget. Tanpa buku kamu bisa bego, tanpa pesta kamu hanya sampah, tanpa cinta kamu bego dan sampah. Kira-kira begitu aku menerjemahkannya, agak kasar tapi siapa peduli.
Aku ragu apakah ada yang mau baca tulisan ini. Memngingat pertanyaan itu aku jadi merasa bodoh? Itu termasuk hal yang tidak bisa kujawab di masa depan, siapa yang tahu? Aku tidak ingin jadi penulis cerewet yang terlalu menuntut tentang bla-bla-bla akan sebuah tulisan. Tuntutan-tuntutan seperti itu sama sekali tidak penting. Yang terpenting kurasa adalah .........

3
Jadi ketika aku sendirian karena merasa terkucil di organisasi yang pada dasarnya adalah salahku sendiri. Aku jadi jarang tertawa dan tersenyum. Setiap hari hanya berkutat mengerjakan tugas kuliah dan skripsi, selebihnya hanya kenangan-kenangan singkat. Seperti keluarga kecil yang bahagia. Makan bersama ketika pagi, jalan-jalan ke banyak tempat, saling tukar pendpat dan malamnya berkumpul sambil menikmati kopi. Kurasa keluarga kecil ya speperti itu. Sampai aku naksir beberapa cewek yang ada di organisasi. Mereka semua berakhir dalam pelukan cowok lain. Dan aku bersyukur untuk itu kurasa, aku terlalu kelam untuk cahaya, terlalu gelap untuk pijar nyala lilin yang hangat dan redup. Apa maksudnya aku juga tidak mengerti, kata Cobain sih ‘well, nevermind, forget it’
Sampai suatu ketika slah satu cewek yang aku sukai itu membuat status di Fb, ‘ saudaraku XXXX semangat ya,....’ kau tahu kan bagian XXXX adalah nama cewek sumber bencana dan bagian terburuk dari tulisan itu adalah kata saudaraku. Dalam ilmu perang manapun, itu berarti temannya musuh adalah musuh juga, apalagi ini, sodara. Aku benar-benar seperti ditusuk dari belakang, pakek samurai. Aku kesal dan si cewek itu langsung aku remove. Perbuatan yang sampai sekarang tidak kusesali.
Terkadang ketika pikiran kelam itu muncul dan ingin berbuat sesuatu yang menggemparkan dunia persilatan, aku ingin menantang mereka duel. Tapi terkadang merasakan semua itu membuatku lelah, toh mereka adalah orang-orang gak penting dlam hidupku, kalau aku masih hidup dan punya kehidupan.
4
Kata neneknya Haruki Murakami, ‘orang yang berhati kelam hanya akan melihat mimpi buruk dan apabila hatinya lebih kelam lagi, mimpipun ia tidak bisa’. Lalu neneknya Haruki kerjanya apa aku tidak tahu, bodo amat. Tapi belakangan ini aku memng banyak mimpi buruk. Tentang hal-hal yang tidak pernah bisa kuceritakan kepada orang lain. Tentang ketakutan-ketakutanku. Aku terlalu sendiri an penyendiri untuk bercerita hal-hal begituan, sesuatu yang sangat pribadi menurutku dan akhirnya mimpi yang paling akhir kulihat adalah tentang bagaimana caranya mati, tanpa kesakitan. Buruk sekali kan.
Aku pernah membaca catatan bunuh diri yang konyol di surat kabar. Jadi ceritanya si cewek kegirangan karena hamil dan memberitahukan berita ini kepada pacarnya. Dan saking gembiranya si cowok akan jadi ayah, ia melompat dari jembatan. Gila dan bodoh kan.
Belakangan aku diserang rasa bosan yang kuat sekali, begitu akut dan parah sampai aku berfikir yang tidak-tidak. Itu akibatnya kalau seorang penulis sudah mulai jarang menulis dan bercerita. Ia akan diserang kebosanan yang entah datang darimana. Lalu mengatasi semua itu aku mulai menulis lagi, mencari akal supaya tersembuhkan dari rasa bosan yang lembab dan lusuh. Pokoknya rasa bosan itu monster menakutkan yang harus segera dimusnahkan.
5
Kalian tahu, akhirnya aku diwisuda setelah berkubang dalam sampah yang namanya skripsi. Aku lulus dengan IPK selutut, rada bengkok. Lutut tua yang gemeter. Lhoh ngapain bicara lutut. Intinya adalah kuliah beres dan sialnya acara wisuda adalah bagian paling menyebalkan. Aku tidak punya keluarga, karena mereka semua sudah sejak lama mengungsi ke planet lain. Jadi ketika aku masih kecil aku dibesarkan oleh mineral tambang yang sepinya luar biasa. Ditinggalkan begitu saja. dan kalian tahu kan Indonesia itu kaya mineral tambang, jadi aku anak yang kaya-raya tapi sepi. Dan acara wisuda itu begitu mengerikan. Aku sampai menangis karena semua orang berkumpul dengan keluarganya. Itu adalah bagian dari rasa kelamku, karena gak mungkin aku mengundang mineral tambang buat hadir dan poto-poto di hari wisuda. Hari itu menyebalkan sekali. Lalu hujan pun turun tiba-tiba menyamarkan air mataku yang kemudian kuharamkan untuk terjatuh lagi, untuk acara yang gak penting semacam wisuda. Sudah kubilang kan tadi, aku berkubang pada hal-hal gak peting, salah satunya adalah hari wisuda.
Lulus kuliah membuatku ingin mengikuti jejak beberapa musikus yang keren, seperti Kurt Cobain dan Flea. Aku akhirnya memutuskan membuat band, band terhebat yang pernah ada. Aku pung kesana kemari mencari personil yang biasa diajak main musik. Lalu aku berkenalan dengan penjual cendol bernama andika yang ngebet banget pengen gabung tapi kutolak. “Bandku alirannya gak cocok sama kamu “ aku basa basi sama andika.
Lalu aku kenalan sama guitaris bernama cecil, anak penjual CD bajakan. “aku bisa main gitar” awalnya sih pengen nannya no HP doank tapi pas ngobrol jadi cerita-cerita banyak terus ngaku anak band, “oke, nanti kapan-kapan kita ngejame bareng ya”. Dan perkenalan singkat itupun berlanjut.
Kecepatan jari cecil luar biasa, mengalahkan teriakan emaknya. Lalu band kecil kami terbentuk. Mamon anak basket dibagian ddrum, cecil guitar dan aku bass dan vokal. Kami bertiga seperti coro di acara festival. Gak dianggep dan gak ngaruh. Coro selalu diinjak-injak untuk dihabisi. Penampilan pertama kami buruk sekali karena memang jarang latihan. Aku sibuk main game, si momon Basket dan cecil jualan CD. Sampai disini Cecil nangis sesengukan dan aku gak kuat nerusin nulis tentang itu. Cecil dan betapa buruk lingkuangan keluarganya yang penuh pertengkaran dan teriakan-teriakan. Aku gak mampu.
6
Melalui banyak rintangan kami mmasih terus berjuang bersama dalam band kecil kami, yang kami namai metal alexander. Dan masih belum banyak perkembangan sampai saat ini. Seperti anak ayam yang butuh waktu lama untuk tumbuh berkokok mengumpati pagi yang mengganggu tidurnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar