Jauh sebelum aku berakhir dilubang sampah liang lahat aku
ingin meracau sebentar bercerita tentang hal-hal yang aku alami, aku mimpikan
dan segala yang mencekam dalam hidupku. Membuatku merasa lebih baik bersembunyi
selama lamanya dalam dalam tanah.
Kopi. Aku sangat menyukai cairan kentakl hitam yang kubuat
manis-manis itu. Begitulah aku tiap pagi selalu membuat kopi sampai suatu malam
aku melihat makhluk yang muncul dari secangkir kopi yang hitam pekat. Ia
berlendir dan menyeringai tajam dengan kuku-kuku panjang. Anehnya hal itu
membuatku tertantang sehingga jangankan lari, aku menonton makhluk itu dalam
mimpiku. Bukan bererti pula aku tidak takut. Aku sangat takut tetapi ada
dorongan lain dalam diriku yang memaksaku untuk berdiri diam. Dan itu terjadi
sepanjang malam. Hasilnya adalah mimpi itu menjadi sangat membosankan untuk
dibicarakan.
Mimpi paling manakutkan yang pernah aku alami adalah tentang
sebuah bola. Bola menggelinding yang semakin lama semakin besar dan besar
hingga seakan-akan melindasmu dan menjadikan apapun yang dilindasanya seperti
tikus yang dilindas truk di jalan raya. Sewaktu kecil aku sangat ketakutan
sampai-sampai ingin menutupi mata walaupun itu hanya mimpi. Aku berteriak
seperti kesetanan minta matakau ditutup padahal aku sedang tidur. Lucu ya. Kini
ketiika sudah dewasa aku melihat lagi mimpi seperti itu, hanya saja nasibnya
sama. Aku terdiam termangu sambil menikmati sensasi ketakutan yang sama. Aku
menikmatinya. Rasanya aku sudah tidak waras.
Di sebuah film kungfu aku pernah melihat karakter seperti
itu. Seorang pria yang tidak bisa mengekspresikan dirinya. Ia diam saja ketika
menyaksikan seluruh klannya dibantai habis. Entah kalau yang seperti itu. Apa
karena ia malas? Atau karena hal lain.
Kalau tentang kemalasan, seharusnya memang dunia ini
dijadikan seperti tempat penjual minuman otomatis yang tinggal pencet saja.
tidak perlu memasukkan uang receh atau benda-benda aneh kedalam mesin penjual
otomatis.
Ditempatku sangat panas dan parahnya tidak ada yang bisa
dikerjakan, sangat membosankan. Apakah ada sesuatu yang terlahir untuk menjadi
sia-sia? aku membaca kalimat itu dari sebuah novel yang dibuang oleh orang yang
tidak kukenal. Coba kau bayangkan, aku punya buku yang dipinjam seorang cewek
cantik dan tiba-tiba buku itu dibuang oleh pacar si cewek itu. Konyol sekali
ya. Cowok itu, si cewek dan sekaligus aku terlibat dalam suatu kekonyolan yang
diderita dunia ini. Ini namanya sia-sia, coba bayangkan bagaimana nasib buku
yang dibuang itu, ia berada di tong sampah dan tidak ada yang memungutnya,
kalaupun ada pasti dijadikan barang tidak berharga yang disobek halamannya lalu
dijadikan tisu toilet. Masih untung dijadikan tisu toilet, bagaimana kalau
dipakai menghapus ingus.
Kalau dipikir-pikir aku punya segudang kisah bodoh seperti itu,
yang menempatkan diriku dlam kekonyolan yang sia-sia dan berakhir dengan
membuat diriku melihat tontonan kenangan yang memuakkan untuk selalu diputar
dalam kepalaku dan aku merasa muak setiap saat.
Dua hari yang lalu aku mampir disebuah toko buku yang
membuatku berfikir “aku akan menulis buku dan tidak berhenti menulis sampai
selesai lalu memaksa orang-orang membacanya” semacam obsesi gila karena
bertebarannya buku-buku yang gak mutu. Dan aku selalu tergelitik untuk membeli
satudan membuktikan diriku benar, untuk apa aku membuktikan diriku salah.
Premis A, aku selalu benar. Premis B, bila aku salah, kembali ke premis A. Buku
yang akhirnya kubeli adalah Pocong. Padahal aku membelinya karena takut untuk
mengambil buku berjudul biografi singkat Kurt Cobain. Alasanku adalah, aku
tidak akan mati membaca pocong tetapi aku mungkin ingin mati ketika membaca
tentang Kurt Cobain. Terkadang aku merasa punya kesamaan dengan Cobain seperti
beberapa kata yang kubaca dibuku itu, ‘Cobain seorang yang lembut dan penyanyang’
begitu pula aku, tapi terkadang aku punya imajinasi sadis yang najis untuk
diceritakan disini. Lalu belakangan aku tergila-gila dengan musik Cobail, aku
mendengarkan banyak musik Nirvana, ada setumpuk di playlistku dan aku
menyukainya. Pikiran-pikiran buruk menerorku setelah itu. Dahulu kala seorang
guru pernah berkata bahwa anak penakut sepertiku akan berakhir mati bunuh diri.
Kira-kira dia bilang begitu. Yang terjadi adalah ia mati duluan sebelum
membuktikan ramalannya. Aku masih hidup, walau dengan rasa takut yang luar
biasa, takut tentang hidup, takut tentang mati dan takut kepada Tuhan. Aku
bersyukur juga diberi kelimpahan rasa takut yang terkadang membuat hidupku
seperti sirkus.
Di buku biografi singkat Kurt Cobain ada kata-kata “ aku
tidak akan berakhir menjadi orang yang naik ke atap dan ingin bunuh diri,
tetapi aku benar-benar melakukannya. Tapi sebelumnya aku ingin bercinta dulu”.
Aku juga membaca buku komik yang menyebut Kobain sebagai “Down to Eart man”
mungkin artinya orang rendah hati yang membumi. Perlahan aku mengagumi Cobain.
Sekarang aku hanya termangu diambang sebuah pintu yang entah
membawaku kemana. Semacam akhir hidup barangkali. Sebelum aku melangkah yang
paling kuinginkan adalah menghadapi rasa takutku. Meninjunya sebagai seorang jantan.
Menghajarnya sampai babak belur, atau membiarkannya menghajarku sambil tetap
kuludahi wajahnya dan kunikmati kemenanganku. Kurasa itulah yang kuinginkan
dengan menulis kisahku disini, sebagai bentuk perlawanan terakhir.
1.
2
Aku sibuk berkutat dengan kuliah dan terutama skripsi yang
kuanggap gak penting. Aku berkubang dalam segala hal yang tidak penting seperti
konsultasi ke dosen pembimbing dan melakukan penelitian yang tidak begitu
penting. Satu-satunya hal yang rada penting saat itu adalah aku membaca
biografi Soe-Hoek-Gie. Sosok yang menginspirasiku di kemudian hari. Justru ketika
aku membaca buku tulisan-tulisannya. Yang paling aku sukai adalah bagian
tentang bobroknya generasi tua. Kemana mereka? Berbuat apa? Dan tidur dimana?
Kok Indonesia kacau seperti ini. Sedikit pesimistis dan gelap. Aku benci
generasi tua.
Dengan mengerjakan kuliah dan skripsi aku ingin membuktikan
kalau aku mau aku bisa lulus dan dapat gelar itu. Kalau aku mau. Jadi pada
dasarnya aku lulus atau tidak itu karena memang faktor kesengajaan. Aku lulus
kuliah lima tahun.
Aku suka slogannya anak UI di buku Hoek-Gie, “buku-pesta dan
cinta” anak muda banget. Tanpa buku kamu bisa bego, tanpa pesta kamu hanya
sampah, tanpa cinta kamu bego dan sampah. Kira-kira begitu aku
menerjemahkannya, agak kasar tapi siapa peduli.
Aku ragu apakah ada yang mau baca tulisan ini. Memngingat
pertanyaan itu aku jadi merasa bodoh? Itu termasuk hal yang tidak bisa kujawab
di masa depan, siapa yang tahu? Aku tidak ingin jadi penulis cerewet yang
terlalu menuntut tentang bla-bla-bla akan sebuah tulisan. Tuntutan-tuntutan
seperti itu sama sekali tidak penting. Yang terpenting kurasa adalah .........
3
Jadi ketika aku sendirian karena merasa terkucil di
organisasi yang pada dasarnya adalah salahku sendiri. Aku jadi jarang tertawa
dan tersenyum. Setiap hari hanya berkutat mengerjakan tugas kuliah dan skripsi,
selebihnya hanya kenangan-kenangan singkat. Seperti keluarga kecil yang
bahagia. Makan bersama ketika pagi, jalan-jalan ke banyak tempat, saling tukar
pendpat dan malamnya berkumpul sambil menikmati kopi. Kurasa keluarga kecil ya
speperti itu. Sampai aku naksir beberapa cewek yang ada di organisasi. Mereka
semua berakhir dalam pelukan cowok lain. Dan aku bersyukur untuk itu kurasa,
aku terlalu kelam untuk cahaya, terlalu gelap untuk pijar nyala lilin yang
hangat dan redup. Apa maksudnya aku juga tidak mengerti, kata Cobain sih ‘well,
nevermind, forget it’
Sampai suatu ketika slah satu cewek yang aku sukai itu
membuat status di Fb, ‘ saudaraku XXXX semangat ya,....’ kau tahu kan
bagian XXXX adalah nama cewek sumber bencana dan bagian terburuk dari
tulisan itu adalah kata saudaraku. Dalam ilmu perang manapun, itu berarti
temannya musuh adalah musuh juga, apalagi ini, sodara. Aku benar-benar seperti
ditusuk dari belakang, pakek samurai. Aku kesal dan si cewek itu langsung aku
remove. Perbuatan yang sampai sekarang tidak kusesali.
Terkadang ketika pikiran kelam itu muncul dan ingin berbuat
sesuatu yang menggemparkan dunia persilatan, aku ingin menantang mereka duel.
Tapi terkadang merasakan semua itu membuatku lelah, toh mereka adalah
orang-orang gak penting dlam hidupku, kalau aku masih hidup dan punya
kehidupan.
4
Kata neneknya Haruki Murakami, ‘orang yang berhati kelam
hanya akan melihat mimpi buruk dan apabila hatinya lebih kelam lagi, mimpipun
ia tidak bisa’. Lalu neneknya Haruki kerjanya apa aku tidak tahu, bodo amat.
Tapi belakangan ini aku memng banyak mimpi buruk. Tentang hal-hal yang tidak
pernah bisa kuceritakan kepada orang lain. Tentang ketakutan-ketakutanku. Aku
terlalu sendiri an penyendiri untuk bercerita hal-hal begituan, sesuatu yang
sangat pribadi menurutku dan akhirnya mimpi yang paling akhir kulihat adalah
tentang bagaimana caranya mati, tanpa kesakitan. Buruk sekali kan.
Aku pernah membaca catatan bunuh diri yang konyol di surat
kabar. Jadi ceritanya si cewek kegirangan karena hamil dan memberitahukan
berita ini kepada pacarnya. Dan saking gembiranya si cowok akan jadi ayah, ia
melompat dari jembatan. Gila dan bodoh kan.
Belakangan aku diserang rasa bosan yang kuat sekali, begitu
akut dan parah sampai aku berfikir yang tidak-tidak. Itu akibatnya kalau
seorang penulis sudah mulai jarang menulis dan bercerita. Ia akan diserang
kebosanan yang entah datang darimana. Lalu mengatasi semua itu aku mulai
menulis lagi, mencari akal supaya tersembuhkan dari rasa bosan yang lembab dan
lusuh. Pokoknya rasa bosan itu monster menakutkan yang harus segera
dimusnahkan.
5
Kalian tahu, akhirnya aku diwisuda setelah berkubang dalam
sampah yang namanya skripsi. Aku lulus dengan IPK selutut, rada bengkok. Lutut
tua yang gemeter. Lhoh ngapain bicara lutut. Intinya adalah kuliah beres dan
sialnya acara wisuda adalah bagian paling menyebalkan. Aku tidak punya
keluarga, karena mereka semua sudah sejak lama mengungsi ke planet lain. Jadi
ketika aku masih kecil aku dibesarkan oleh mineral tambang yang sepinya luar
biasa. Ditinggalkan begitu saja. dan kalian tahu kan Indonesia itu kaya mineral
tambang, jadi aku anak yang kaya-raya tapi sepi. Dan acara wisuda itu begitu
mengerikan. Aku sampai menangis karena semua orang berkumpul dengan
keluarganya. Itu adalah bagian dari rasa kelamku, karena gak mungkin aku
mengundang mineral tambang buat hadir dan poto-poto di hari wisuda. Hari itu
menyebalkan sekali. Lalu hujan pun turun tiba-tiba menyamarkan air mataku yang
kemudian kuharamkan untuk terjatuh lagi, untuk acara yang gak penting semacam
wisuda. Sudah kubilang kan tadi, aku berkubang pada hal-hal gak peting, salah
satunya adalah hari wisuda.
Lulus kuliah membuatku ingin mengikuti jejak beberapa
musikus yang keren, seperti Kurt Cobain dan Flea. Aku akhirnya memutuskan
membuat band, band terhebat yang pernah ada. Aku pung kesana kemari mencari
personil yang biasa diajak main musik. Lalu aku berkenalan dengan penjual
cendol bernama andika yang ngebet banget pengen gabung tapi kutolak. “Bandku
alirannya gak cocok sama kamu “ aku basa basi sama andika.
Lalu aku kenalan sama guitaris bernama cecil, anak penjual
CD bajakan. “aku bisa main gitar” awalnya sih pengen nannya no HP doank tapi
pas ngobrol jadi cerita-cerita banyak terus ngaku anak band, “oke, nanti
kapan-kapan kita ngejame bareng ya”. Dan perkenalan singkat itupun berlanjut.
Kecepatan jari cecil luar biasa, mengalahkan teriakan
emaknya. Lalu band kecil kami terbentuk. Mamon anak basket dibagian ddrum,
cecil guitar dan aku bass dan vokal. Kami bertiga seperti coro di acara
festival. Gak dianggep dan gak ngaruh. Coro selalu diinjak-injak untuk
dihabisi. Penampilan pertama kami buruk sekali karena memang jarang latihan.
Aku sibuk main game, si momon Basket dan cecil jualan CD. Sampai disini Cecil
nangis sesengukan dan aku gak kuat nerusin nulis tentang itu. Cecil dan betapa
buruk lingkuangan keluarganya yang penuh pertengkaran dan teriakan-teriakan.
Aku gak mampu.
6
Melalui banyak rintangan kami mmasih terus berjuang bersama
dalam band kecil kami, yang kami namai metal alexander. Dan masih belum banyak
perkembangan sampai saat ini. Seperti anak ayam yang butuh waktu lama untuk
tumbuh berkokok mengumpati pagi yang mengganggu tidurnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar