Kamis, 10 Februari 2011

Nina

(nama lain Cinta)

Kakak perempuanku, ayah menyebutnya dengan sebutan anak angkat. Kakak sangat cantik, meskipun begitu, ayah tidak memperlakukannya dengan baik, dia memaki, memukul dan memerintah dengan ucapan yang keras setengah membentak. Dan kakak selalu saja menurut, menunduk dan mengiyakan segala yang diucapkan ayah. Kebiasaan ayah yang masih saja kuingat adalah pulang tengah malam dalam keadaan mabuk, kemudian membangunkan kakak perempuanku sambil membentak-bentak seperti orang gila. Disela-sela kemarahan dan bentakannya selalu terselip sebuah nama, “Shen Fang” diucapkan berkali-kali sesudah itu ayahku menangis tersedu-sedu seperti orang yang baru ditinggal mati.



“ibu, siapa itu Shen Fang Ibu?” suatu ketika aku bertanya
. “Shen Fang itu Ibu kakakmu” jawab ibuku singkat. Ibuku, seorang wanita jawa yang sangat pendiam dan selalu mengabdi kepada suami. Terhadap kakak perempuanku itu, ibu selalu saja bersikap lembut dan penuh kasih sayang, berbeda dengan sikap yang ditunjukkan ayahku, aku sendiri tidak mengerti, mengapa mereka bisa berbeda sikap seperti itu.

Seperti malam ini, aku ikut pula terbangun seperti beberapa malam yang lalu ketika ayah pulang dalam keadaan mabuk. Aku terbangun lalu menyaksikan tontonan yang tidak mengenakkan hati. Ayah membentak-bentak kakak, menyeretnya keluar lalu mengguyurnya dengan air diudara yang dingin diluar rumah, kali ini ia sama sekali tidak menyebut nama “Shen Fang”.

“Bangun anak malas ini sudah waktunya kau bangun” kata ayahku kepada kakak perempuanku dengan kasar. Aku dan ibu hanya mematung memandang ayah yang meninggalkan kakak perempuanku dalam keadaan menangis terisak dan kedinginan. Sekilas kupandangi raut wajah ibuku, ia hanya terdiam mematung sambil menitikkan air mata.

***

“kakak, aku ingin menanam bunga sepatu di makam ibu” sama seperti yang kusaksikan dulu pada ibu, kakak perempuanku itu hanya terdiam mematung sambil menitikkan air mata ketika mendengar ucapanku. Seumur hidupku aku hanya menyaksikan wanita-wanita disekelilingku menangis dan bersedih, perlahan-lahan kepedihan yang menusuk-nusuk ulu hati mereka kurasakan juga. Kakak perempuanku itu, apa yang bisa membuatnya bahagia?

Melihatnya seperti itu aku hanya bisa menggenggam tangan kakak perempuanku erat-erat. Sama seperti yang kulakukan sebelum ibu menghembuskan nafas terakhirnya. Saat ibu berkata kepada kakak perempuanku, “Shen Fang, ibumu, wanita yang sangat cantik, selalu tersenyum dan tegar, meskipun pada akhirnya ia hidup menderita. Mungkin itu yang dicintai suamiku dari ibumu. Jangan menangis dan bersikaplah seperti ibumu”. Lalu kakak perempuanku itu berusaha keras untuk berhenti manangis, sampai isaknyapun berhenti, tinggal air mata itu saja yang tidak mau berhenti merembes dari sela-sela kepedihannya.


Angin senang sekali mengusik ketenangan kembang-kembang sepatu yang tergantung indah pada dahan-dahan itu.Beberapa, jatuh tepat pada batu nisan ibu.
Kini kembang sepatu yang kutanam dulu sudah berbunga dengan rebaknya. Bunga-bunga itu untukmu ibu. Dan ingin sekali saat itu aku bertanya pada ayah, “ayah, bunga apa yang ingin aku menanamnya di makammu nanti”, tetapi aku tidak jadi mengucapkannya karena ayah sudah terlalu mabuk untuk mencerna kata-kata. Kupandangi sosok lelaki disampingku itu. Digenggaman tangan kanannya terselip sebuah botol minuman keras, dan air mukanya meredup serta berwarna merah. Kini ia sudah tidak marah-marah lagi, tidak ada yang dibentak, dimaki-maki atau bahkan diseret-seret, ia hanya seorang pria mabuk, mabuk dan mabuk.

“kakakmu itu, dimana ia sekarang?” ayah bertanya sambil menyodorkan botol -nya kepadaku.
“Tidak tahu, ia sudah pergi jauh” ucapku sambil menerima botol yang disodorkan ayah.

Aku tersenyum begitu menyadari kebiasaan Ziarah dikeluarga kami yang aneh, jika keluarga lain sibuk mengucapkan doa-doa, aku dan ayah justru sibuk menenggak minuman keras.

Ayah mengucapkan sebuah nama yang terpendam dalam lubuk hatinya begitu lama dan menyiksanya selama bertahun tahun, “Shen Fang…… Shen Fang…….Shen Fang” . Sesudah itu tubuh ayah tergeletak tanpa daya lagi, entah pingsan atau mati.

Aku sendiri semakin merasa kesepian ditanah perkuburan ini. Kuhabiskan tenggakan terakhirku untuk sedikit mengusir rasa sepi setelah kakak perempuanku pergi. Sebelum kesadaranku hilang, aku meniru ayah saat mengucapkan nama wanita yang paling dicintainya. Aku ingin mengucapkan nama perempuan itu. “Nina…..Nina…..Nina” nama anak angkat ayah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar