Wanita itu sedang mendongeng sekarang. Semua orang menikmati setiap kata yang indah disusunnya. Benar-benar seorang pencerita ulung. Tidak ada yang melamun atau menguap bosan. Ialah fokus dari tiap mata yang ada di depannya. Saat cerita berakhir, tepuk tangan riuh bergemuruh untuknya. Sang pencerita ulung tersenyum, senyum wanita itu mempesona. Ruangan yang tidak terlalu luas itu membuatnya gembira. Wajah-wajah kagum itu membuatnya gembira.
Disuatu sudut ruang itu, seorang pria juga ikut bertepuk tangan. Sudah seminggu ia berada di tempat itu. Wajahnya memantulkan temaram sinar lampu yang tergantung satu meter diatasnya, ia gembira. Saat malam tiba ia tidak pulang seperti para pengunjung lainnya. Ia tidur di emperan seperti seorang gelandangan. Kadang kala ia sendiri merasa aneh dengan jalan pikir segumpal otak yang ada di dalam batok kepalanya. Selain itu ia sendiri merasakan keanehan pada dirinya, tempat ini membuatnya rindu untuk kembali setiap kali ia melangkah pergi. Bau tempat ini seperti rumuh kumuh Aladin yang membuatnya nekat untuk terjun ke jurang jin, bau negeri dongeng paling angker dan mendirikan bulu kuduk, tetapi juga bau istana raja-raja paling mengagumkan yang pernah dihayalkan manusia.
Cerita wanita itu begitu indah, tidak kalah dengan Cinderella, putri salju, atau ribuan cerita legenda lainnya. Wanita itu berbakat. Malam itu sang lelaki sedang merenungkan cerita yang baru saja didengarnya. Sebuah cerita tentang cinta yang begitu indah mempesona, lebih romantis dari Romeo and Juliet, Cerita Cinta Pualam Putih yang sayangnya berakhir tragis. Dalam cerita itu juga digambarkan suatu istana putih yang terbuat dari pualam. Tempat dimana cinta itu terjadi. Istana itu lebih indah dari Taj Mahal dan kerajaan manapun dalam sejarah. “bagaimana semua itu bisa ada di dalam kepalanya” sang lelaki mulai bertanya. Direbahkan tubuhnya yang mulai lelah, dan otaknya masih bertanya. Dadanya bergemuruh mengenang cerita cinta yang baru saja didengarnya. Matanya sama sekali tidak bisa terpejamkan. Dibuatnya catatan-catatan kecil dan coretan-coretan di sebuah kertas. Matanya berbinar, gubuk penceng itu nampak seperti istana di kepalanya. Pria itu melonjak dari rebahannya. Langkahnya riang seperti anak kijang yang melengang. Ia pergi ke sebuah pantai yang tidak jauh dari tempat itu. Ia akan membuat sebuah istana pasir. Istana yang diilhami dari kisah cinta Pualam Putih. Dengan mata yang berbinar-binar dikeruknya pasir itu dengan jari jemari kurusnya. Ditumpuknya lumpur pasir itu sedikit demi sedikit, akan kuperlihatkan kepada wanita pendongeng itu sebagai penghargaan dari cerita cintanya yang mempesona. Gundukan itu setinggi setengah meter. Dibuat megah untuk ukuran sekedar istana pasir. Detailnya dibuat rapi, berbeda dari sketsa yang sekedar seperti gubuk tua yang tidak tegak berdiri. Menara-menaranya dibuat indah mengelilingi bangunan utama. Malam itu ia sama sekali tidak memejamkan mata sedikitpun. Detail istana itu dibuatnya secermat mungkin di bawah cahaya bulan yang remang-remang. Dinginnya udara pantai yang menggigilkan tulang rusuk gagal menggodanya. Matanya seakan terhipnotis untuk mengundang sebuah benda dari negeri dongeng. Sebuah istana yang akan dimintanya jika ia punya lampu Aladin.
Menjelang pagi istana itupun selesai dikerjakan. Lelaki itu duduk sejenak menikmati istana Jin negeri dongeng dihadapannya. Lima menit kemudian tubuhnya tidak mampu lagi tegak berdiri. Tulang-tulang itu kehilangan kekuatannya, yang telah dimuntahkan semalam suntuk. Ia roboh, tergeletak seperti benda mati. Atau mungkin keadaannya yang tidak karuan lebih membuatnya mirip seperti sampah.
Derai angin pantai membelai tubuhnya yang terkulai. Perlahan matanya terbuka saat sinar sore matahari senja merayapi retinanya. Mata itu seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ingin sekali lelaki itu mengucek mata seratus kali untuk membuktikan matanya telah berbohong. Ia lebih memilih mati dan tidak pernah lagi membuka mata daripada melihat apa yang ada didepannya. Ia terlonjak dan mengelilingi benda didepannya, mencari bukti dari sebuah kebohongan yang tidak pernah ada. Badannya seketika menggigil, bibirnya bergetar. Seharian ini ia tergeletak tidak sadarkan diri, sama sekali tidak punya kekuatan untuk sekedar memicingkan mata, dan sekarang saat ia melihat istana Jinnya berserakan seperti sampah. Rasa dingin yang semalaman diabaikannya sekarang merayapi tubuhnya dengan sangat, membalas dendam dengan menyiksa setiap sel tubuhnya agar berharap tidak lagi hidup. Pria itu mengigil, menahan dingin angin laut yang datang dari alam gaib. Dengan terseok-seok ia mengikuti jejak kaki yang memporak-porandakan istana pasirnya. Akhirnya ia menemukan apa yang dicarinya disana, berdiri bertelanjang kaki. Dadanya seakan dihantam palu godam saat ia mendapati wanita itu berdiri disana. Jejak kaki itu miliknya, pasir itu membungkus jari jemari wanita itu, wanita pendongeng kisah Pualam Putih. Wanita itu menoleh sejenak padanya. Mengucapkan kata-kata dengan lirih dan hampir tanpa suara, “Bukankah kau gelandangan itu? kasihan sekali engkau pria muda, jika aku menjadi dirimu, aku lebih baik mati “.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar