Selasa, 22 Februari 2011

My misserable life ( Review ‘ Easy A’ )



Hidupku yang berantakan. Begitulah kira-kira terjemahannya. Saya pernah melihat film-film yang temanya semacam ini. Salah satunya adalah easy A. Sebuah film yang bagus.


Dimulai dari sebuah kebohongan yang berlanjut dengan kebohongan-kebohongan. Penuh kebohongan, kebohongan meluber seperti sungai yang banjir di Jakarta. Seorang remaja wanita yang mengaku kehilangan keperawanannya. Berita cepat sekali menyebar seperti disebuah desa yang pendudukan mendapat uang dari bergosip. Semua orang menjadi tahu apa yang dilakukan si remaja, atau setidaknya sesuatu yang dikarangnya dan dianggapnya sebagai kebenaran.

Pada awalnya si remaja putri ini membuat cerita karangan hanya untuk memuaskan imajinasi temannya. Lalu cerita berlanjut dengan kebohongan untuk menyelamatkan seorang pemuda dari reputasi gay, padahal di cerita dia benar-benar gay.  Sampai berlanjut dengan motif kebohongan yang sama. Motif yang sungguh mulia sebenarnya, menyelamatkan seseorang dari reputasi buruk dengan memperburuk reputasi sendiri. Nah, bagi anda yang ingin bertingkah heroik dengan cara ini, silahkan tonton filmnya.

Sisi luar biasa dari easy A adalah bahwa ia tontonan yang menghibur. Seseorang yang diliputi rasa putus asa dan keinginan mengakhiri hidup sebaiknya mencoba melihat film ini. Selalu ada banyak sisi dari sebuah cerita, bila anda ingin versi yang lebih baik, cobalah buat cerita anda sendiri. Atau anda bisa melakukannya pada kehidupan nyata anda yang berantakan. Buat versi anda sendiri yang lebih baik. Bukan berarti saya menyarankan anda untuk membohongi diri sendiri. Easy A memberi semangat pada para penontonnya untuk melanjutkan hidup. Tragedi mengerikan yang menimpa seseorang bisa saja menjadi komedi bagi orang lain. Dan bisa jadi anda menemukan hal-hal luar biasa dari tragedi yang anda alami, seperti halnya yang dialami si remaja putri easy A.

Sisi jelek film ini adalah ia hanya film remaja yang bertema ringan. Anda tidak akan menemukan adegan jotos-jotosan ala anggota DPR ataupun ala Bruce Lee. Ending yang ditawarkan juga seperti yang diatawarkan oleh cerita-cerita dongeng. Happily ever after,.... ending seperti itu adalah sebuah ending yang tidak bisa dipercaya, sebuah ending yang fiktif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar