Novel ini sangat eksploratif. Berisi tentang banyak hal menarik dan ganjil. Awalnya saja sudah ganjil, dibuka dengan cerita seorang yang hidup kembali setelah mati 20 tahun.
Rasanya memang itulah satu sisi yang ingin disampaikan sang penulis (mas Eka Kurniawan). Kenapa sih cerita selalu saja mengikuti sebagaimana cerita-cerita lain pada umumnya. Jika seperti itu, apa tidak membosankan?. Dunia fiksi akan menjadi sesuatu yang linier dan sangat membosankan. Atau kenapa semua orang harus berfikir dengan sesuatu yang tidak ada tapi diada-adakan yang disebut dengan logika cerita. Sesuatu kekonyolan yang luar biasa ketika kehidupan nyata bisa berjalan diluar logika, tetapi sebuah cerita fiksi harus mengikuti sesuatu yang disebut logika cerita. Nah, Novel Cantik itu luka seakan berkata dengan lantang, “ini sebuah novel yang lain” dan memang benar-benar lain daripada yang lain.
Membahas tentang logika cerita, saya pikir itu konyol karena cerita bukan ilmu pasti. Dan akan sangat mudah ditebak serta membosankan jika selalu saja dipaksakan untuk kawin dengan logika. Ini semacam perjodohan tidak idealis yang dipaksakan.
Cantik itu Luka bercerita tentang cerita-cerita menarik dari para tokohnya. Sama sekali tidak mengikuti kaidah, “tunjukkan tapi jangan beritahu” menurut saya novel ini adalah kebalikkannya, “beritahu lalu tunjukkan”.
Sisi lain dalam buku ini adalah penyampaian sambil lalu peristiwa kemanusiaan yang biasanya di dramatisir dalam sastra. Peristiwa-peristiwa seperti kematian, pembantaian, pemerkosaan, dan kisah tragedi lainnya banyak disandingkan dengan satir kekonyolan serta bahan olok-olokan semata. Efek yang ditimbulkannya adalah peristiwa-peristiwa tersebut menjadi berbeda, bahkan menjadi humor yang sangat aneh, ganjil tapi menarik. Salah satu contohnya adalah,: peristiwa seorang perempuan hamil gara-gara diperkosa seorang Jepang. Ia sedang berkumpul dengan teman-temannya, membuat pakain bayi. Teman-temannya yang juga dianiaya pasukan Jepang menyumpahi tentara Jepang “ semoga mereka mati”. Si perempuan hamil berkata, “sst jangan keras-keras, nanti anakku mendengar, dia anak orang Jepang”. Lalu mereka semua tertawa.
Bisa jadi sang penulis ingin berkata bahwa segala peristiwa itu sudah cukup untuk disandingkan dengan kesedihan yang didramatisir dan dibuat-buat. Lalu dibuatlah seorang tokoh yang tingkah lakunya mematahkan semua keharusan yang didramatisir,” biarkan saja berjalan apa adanya, seperti kentut”.
Satu hal yang mengganggu adalah, pada beberapa bagian penceritaan tentang tokoh-tokoh dalam buku ini meloncat-loncat dari satu tokoh ke tokoh lain. Sehingga bisa membuat pembaca berhenti dan berfikir, ini tokoh mana yang dimaksud. Hanya pada bagian yang sangat sedikit. Secara keseluruhan, saya suka sekali buku ini, karena ini adalah buku yang berisi cerita menarik yang diceritakan dengan cara berbeda. Berbeda itu Indah, indah itu cantik dan Cantik itu Luka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar