Jumat, 18 Maret 2011

Tidak sedang Jatuh Cinta

Part I. Ines

“apa? Itu tidak mungkin!!! Aku yakin sekali bahwa dia itu idiot” ines sedang berdebat dengan teman se-gengnya. Disekolah ini, yang mana otot lebih dihargai dan dihormati daripada otak, kau atau siapapun itu membutuhkan sebuah Geng untuk bisa bersekolah dengan tenang. Hal ini berlaku untuk semua gender, pria dan wanita tidak terkecuali, semua orang mempunyai geng, kalau tidak, kau akan diteliti para Psikolog sebagai korban kekerasan disekolah. Kekerasan disekolahan ini setara dengan yang terjadi disebuah lapas anak-anak. Percayalah padaku, jika kau membandingkan grafik tindak kekerasan dua tempat tersebut hasilnya adalah sama.

“Bu Ani yang membicarakan hal itu ketika aku melintasi ruang guru tadi, mereka juga tidak percaya. Melihat tingkah anak itu tentu saja mereka mengira bahwa dia itu idiot, sama seperti perkiraanmu.”

Ines mengangguk-angguk. Ia sedang memonyong-monyongkan bibirnya sambil berfikir tentang sesuatu, kebiasaan inilah yang membuatku menduga Ines itu berfikir dengan mulutnya, bukan dengan otak. Yah selain kecepatan bicaranya yang melebihi seorang pedagang celana dalam.

Kali ini Ines tersenyum. Membuat ketiga temannya merasa heran. Akhirnya ia bicara “rasanya ini aneh, tetapi kalau dipikir lagi, semua hal itu memang mungkin. Coba ingat kembali anak itu dan kebiasaannya. Dia itu seorang pendiam, sangat pendiam dan hampir tidak bicara dengan siapapun. Saat jam istirahat dia pasti menuju salah satu dari tiga tempat ini. Perpustakaan untuk tidur, bawah pohon cemara di pojok parkiran untuk melamun, atau sama sekali tidak keluar dari kelas, awalnya untuk melamun kemudian seterusnya tertidur. Jadi inti dari kegiatan yang dilakukannya, kalau tidak melamun ya tidur. Yang membuat banyak orang mengira dia itu idiot adalah dia itu hampir tidak bicara dengan siapapun, dia itu memang tidak punya teman, pandangan matanya seperti orang mengantuk, cara berjalannya agak membungkuk. Tapi mungkin dia itu memang jenius”
Ketiga teman Ines melongo, mereka memang kenal dengan sosok yang sedang dibicarakan, tetapi tidak satupun dari mereka yang tahu sampai sedetail Ines. Mereka jadi bertanya-tanya dan akhirnya curiga sama Ines,

“kalian kok gitu melihatnya?”

“kamu sering merhatiin si Bankek ya Nes?”

“Haaahhh,... maksud loh,..?” Ines melihat sorot mata teman-temannya dan merasa tidak nyaman dengan itu, cepat-cepat ia membela diri, “Bangkek itu manusia aneh, kayak Alien jadi gue tertarik,--“

“TERTARIK,-“lola memotong kata-kata Ines sambil memberi intonasi penekanan pada kata-kata tertarik

“maksud gue penasaran aja,.. kok ada manusia seperti Bankek yang gak punya temen, gak ngomong dan lo tahu sendiri, dia sering dianiaya sama anak kelas tiga, tapi masih idup, tapi masih berani sekolah disini. Seorang Bankek yang mematahkan teori manusia itu makhluk sosial. Seorang Bankek yang,-“

“CAKEP” lola kembali memberi penekanan untuk mempermainkan Ines yang salting sampai-sampai ia memberikan penjelasan panjang lebar dengan kecepatan bicara yang mengagumkan. Kali ini kata-kata lola tepat sasaran, Ines yang diduga berfikir dengan mulut, mampu melontarkan kata-kata menyaingi kecepatan senapan otomatis dan bicara dengan mulut, kini terdiam, mulutnya bungkam, sungguh sebuah keajaiban yang luar biasa.

to be continue,.......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar