Jumat, 17 Juni 2011

Pusaran manusia dalam Nostalgi

 
Romantisme masa lalu adalah salah satu jenis pelarian untuk istirahat sejenak dari kerumitan masa kini. Masa kini yang kita bicarakan adalah segala tentang kerumitan. Beberapa hari yang lalu saya melihat foto bocah-bocah kecil yang meniti tambang baja untuk menyeberangi sungai. Bukan itu saja, anak-anak itu masih harus berjalan cukup jauh untuk sampai kesekolah. Anak-anak memang selalu mempunyai semangat yang murni untuk belajar. Semangat anak-anak itu tentu saja tidak sama dengan semangat orang-orang senayan yang ngotot membangun gedung baru. Kerumitan lain adalah tentang kemiskinan negeri ini. Orang-orang Yunani mengandalkan perbudakan supaya mereka bisa mengutak-atik matematika, berfilsafat dan berpuisi. Lalu apakah para elite kekuasaan itu melakukan hal yang sama? Mengekalkan kemiskinan supaya mereka bisa hidup mewah? Yang jelas mereka belum bisa membuktikan, bahwa diri mereka membela rakyat di negara ini.


Beberapa hari yang lalu sebuah judul berita menyebutkan. Orang-orang Rindu Orde Baru. Orang-orang itu tentu saja sedang menikmati romantisme masa lalu, mereka muak dengan ocehan politikus sekarang, yang berjanji membangun jembatan sekalipun tidak ada sungai.

Sabtu 21 mei 2011. Dalam aroma kepenatan pikiran aku datang kekota Malang. Kota ini selalu menyapaku dengan dingin dan senyum sapaan yang kaku. Aku hanya tahu didalamnya ada kehangatan seorang sahabat. Aku datang untuk sebuah Romantisme masa lalu.

Aku ingin kembali melewati segala yang tersisa untuk diingat. Aku ingin mengenang yang masih bisa dikenang, memunguti sejumput senyum yang terjatuh di jalan-jalan. Aku ingin kembali dalam ornamen keindahan masa lalu bukan dari senyum seorang gadis jelita, tetapi dari senyumku sendiri.

Minggu 22 mei 2011. Dalam arus manusia, aku tiba-tiba mematung. Suara semua orang tiba-tiba lenyap. Empat orang yang datang bersamaku terdiam dengan pikirannya masing-masing. Aku melihatnya dari jauh, persis pengecut yang segera berubah menjadi tikus di got-got. “itu Dyah putri kan?” seorang teman berkata padaku.

“iya itu dia” aku mengiyakan.

“kau tidak ingin menyapanya?”

Aku hanya menggeleng. Terdiam. Kembali larut dalam arus manusia.

Setelah kupikir-pikir, hidup memang seperti itu. Dimasa lalu, akan selalu ada seseorang yang kita ingat dengan cara itu. Sebuah romantisme masa lalu, dan percakapan kecil hanya akan membuat jahitan luka kembali terbuka.

Malam itu festival Malang tempoe doeloe berakhir dan orang-orang akan kembali pada kerumitan masa kini.


by SAW on Wednesday, May 25, 2011 at 6:01pm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar