Selasa, 21 Juni 2011

Karnaval dalam Kepala



Berita kematian yang kemarin kudengar rasanya seperti pengumuman biasa. Sama sekali tidak seperti kabar meninggalnya raja-raja atau bahkan presiden. Dan justru disitulah berita buruknya. 


Apakah kau pernah merasa biasa saja apabila duduk diantara tumpukan mayat yang mati dalam keadaan mengerikan? Tentu tidak bukan. Kau tidak pernah tahan. Bahkan ketika mayat-mayat itu berubah menjadi kucing, anjing atau babi, tetap tidak akan terasa nyaman duduk diantara bangkai.

Lantas bagaimana orang-orang bisa bersepakat untuk membunuh seorang manusia? Karena kebencian mungkin! Yah siapa yang tahu. Tidak ada yang pernah tahu apa yang ada dikepala orang lain. Bahkan ketika orang itu meracau layaknya orang gila, tetap tidak ada yang bisa dipercaya. 

Apa kau percaya, bila kukatakan aku ini bukan manusia? 

Manusia. Terkadang bila sampai pada titik dimana tidak ada yang bisa dipercayai. Ia akan mempercayai apapun, batu, tangan, galah bahkan kepala babi akan dipercayainya. Mengapa begitu? Akupun tidak tahu jawabannya, kau kira aku ini maha tahu. Aku bahkan tidak tahu siapa diriku? Iya, kenyataan yang bahkan membuatku ingin tertawa.

“Berhentilah tertawa dan mulailah berfikir”. Berfikir untuk apa? Berfikir untuk mencari jawaban, lalu?
Tarik nafas dalam-dalam dan ingatlah sesuatu yang menghibur, sesuatu yang kau nanti. Seperti acara nanti malam. Acara malam tentang ksatria dan anak dalam gelembung, atau acara jejak malam dimana saudari-saudarimu menjajakan diri. Jangan menangis, minumlah kopi atau kopi susu yang diperah dari sapi disebelah selatan desa milik orang paling tua se-kampungmu. Kalau tidak cukup semua itu, menangislah dalam tangis paling keras lalu tertawalah terbahak-bahak seperti saat menyaksikan karnaval dalam kepala. Semua orang lebih suka tertawa daripada menangis.

Aku tahu kau ingin menarik keluar rusuk-rusukmu beserta dua sayap yang enggan keluar dari balik pundak. Kenapa tidak sekalian kau tumbuhkan sepasang tanduk dan ekor yang berujung runcing. Bagaimana mungkin sebutir pasir bisa menyamai planet paling galak dalam semesta yang hingar bingar. Meracaulah sesukamu sampai tuhan manamparmu dua kali, karena Dia sayang dan Cinta. Lalu menangislah setelah menjadi manusia paling terkutuk yang pernah lahir. Dilempar dalam neraka yang panas.

Maaf, lupakan tentang neraka, aku bahkan tidak berhak membicarakannya. Panasnya terlalu pekat untuk sekedar dibicarakan. Bicarakan sajalah surga dan susu-susu paling nikmat. Nikamtilah harimu dan minumlah susu coklat sebelum tidur mendengkur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar