Rabu, 29 Juni 2011

Pendidikan Berkualitas



                Kita seringkali mendengar ucapan keluarga besar SMA ini, keluarga besar SMP itu. Kata keluarga besar akan bersanding dengan nama lembaga pendidikan semisal SMA, SMP dan memang sekolah tersebut besar dengan memiliki banyak murid. Haruskah sebuah lembaga pendidikan bangga dengan memiliki banyak murid. Kita kesampingkan masalah bangga dan tidak bangga. Mari beralih pada berkualitas  dan tidak berkualitas. Apakah sebuah sekolah menjalankan pendidikan yang berkualitas ketika memiliki banyak murid? Apakah semakin banyak murid yang dimiliki sebuah sekolahan menandakan sekolah tersebut berkualitas? Persoalan kualitas pendidikan tentunya adalah masalah yang sangat penting buat anak anda, karena tidak ada seorangpun yang menginginkan anaknya mendapat pendidikan sekualitas gurem atau kuaci.


                Sesungguhnya lembaga-lembaga pendidikan mempunyai semangat yang baik untuk menjadi sebuah keluarga. Dalam pemikiran paling sederhana tentang pendidikan, pendidikan yang paling mewarnai kehidupan seseorang adalah pendidikan yang dilakukan orang tuanya. Seorang anak dokter punya peluang besar untuk menjadi dokter. Sebagai mana peribahasa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Semangat pendidikan seperti itulah yang ingin diterapkan sekolah. Dan hampir semua guru menyatakan akan menjadikan siswanya di didik seakan-akan anak sendiri. Semangat pendidikan seperti itulah yang sebetulnya mewarnai pendidikan di Indonesia, semangat kekeluargaan. Tentunya semangat luhur seperti itu tidak serta merta terwujud dengan mudahnya, banyak tantangan yang perlu dihadapi guna mewujudkannya.

                Sesungguhnya kualitas suatu lembaga pendidikan dapat ditentukan dari komponen-komponen penting dalam lembaga itu sendiri. Ini adalah logika secara umum, sepeda motor tidak bisa berjalan tanpa mesin atau tanpa roda. Yah! Bisa saja berjalan terseok-seok dengan roda yang kempes atau karena bahan bakar yang minim. Lalu apa komponen yang perlu diperiksa itu? Yang pertama adalah masalah pengajarnya, para guru yang akan mengajar anak anda. Tentunya ketika mendaftarkan anak kesebuah sekolah kita tidak serta merta bisa memeriksa kualitas pengetahuan guru yang mengajar disana. Langkah yang paling sederhana adalah memeriksa jumlah gurunya dan jumlah siswa dalam satu kelas. Layakkah jumlah guru yang mengajar dengan jumlah siswa? Permendiknas 41 tahun 2007 menentukan jumlah siswa dalam satu kelas : 32 (SMP)dan dalam standar pelayanan minimal :  36 (SMP). Dalam sebuah penelitian, kesimpulan yang dikemukakan C.Kenneth Tanner dari Universitas Georgia (2000) bahwa lebih kecil jumlah siswa dengan ruang yang lebih sempit, itu lebih baik. Demikian pula hasil penelitian Glass dan Smith (1978), Robinson dan Wittebols (1986), dan Slavin (1989) yang melakukan analisis mengenai kegiatan belajar menyatakan bahwa interaksi antara guru dengan siswa pada kelas kecil lebih intensif. Jumlah siswa dalam satu kelas yang ideal adalah antara 17-20 siswa. Secara kultural, apa yang dikemukakan oleh peneliti tersebut juga sesuai dengan yang terjadi di Indonesia dengan semangat kekeluargaan.

                Dalam buku Quantum teaching juga dikemukakan “mengajar adalah hak yang harus diraih, dan diberikan oleh siswa, bukan oleh departemen pendidikan”. Dalam pola interaksi seperti itu, dimana guru dituntut untuk tidak saja punya kompetensi keilmuan yang mumpuni di bidangnya tetapi juga menjalin hubungan personal yang baik dengan para muridnya sehingga mereka seakan menjadi bagian dari sebuah keluarga. Bisakah hal itu dilakukan oleh seorang guru yang berhadapan dengan 30 atau lebih siswa dalam satu kelas, sementara ia mengajar di beberapa kelas sekaligus. Satu hal bahwa dalam kondisi seperti itu seorang guru akan kesulitan untuk mengingat nama-nama muridnya. Mengingat nama saja sudah sulit lalu bagaimana mau memberikan mereka kualitas pendidikan seakan mereka adalah anak sendiri?

                Amat jarang ditemui sebuah sekolah yang menerapkan kebijakan kelas kecil dengan jumlah 17-20 siswa dalam satu kelas. Hal ini masih bisa diterima apabila seorang guru hanya menangani satu atau dua kelas besar dengan jumlah siswa lebih dari 30. Akan tetapi ketika ia menangani 3 sampai 5 kelas atau bahkan mengajar di 6 kelas yang , kiranya patut dipertanyakan kualitas pembelajarannya. Yang pasti hampir bisa dipastikan ketika hal seperti itu terjadi, yaitu seorang guru menangani kelas besar dan mengajar di 5 kelas dalam satu semester rasanya dia tidak akan sempat memberikan perhatian yang baik kepada tiap siswanya. Mengingat nama mereka semua saja sudah pasti tidak akan bisa.

                Konsekuensi dari sebuah pendidikan berkualitas adalah pembangunan sekolah-sekolah baru dan infrastrukturnya. Kurva dari Jumlah lembaga pendidikan tidak bisa dibiarkan seperti piramida. Yah, minimal bentuk kurvanya mirip gubug penceng. Dan selama sebuah pendidikan yang ideal belum bisa terwujud. Didiklah anak anda baik-baik. Jagalah mereka dengan seluruh pengetahuan yang anda punya dan yang ada dalam semua buku, kalau anda sudah membacanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar