Sabtu, 22 Desember 2012

Review film, Breaking Dawn part 2, Romantisme dongeng para vampir.



Sebuah foto unik terpampang mungil di pojok sebuah surat kabar nasional. Foto itu tentang antusiasme seorang penggemar saga Twilight yang rela berkemah demi mendapatkan tiket penayangan perdana film breaking dawn part 2, bagian terakhir dari serangkain film Saga Twilight yang dibintangi Robert Patinson dan Kirsten stewart. Apa yang menarik dari film ini sampai begitu antusias para penggemarnya?

Breaking Dawn part 2, melanjutkan  rangkaian dari cerita sebelumnya yang diangkat dari Tetralogi novel Twilight. Ini adalah sebuah film adaptasi yang berasal dari sebuah novel. Umumnya kelemahan dari film adaptasi novel adalah durasinya yang terbatas, tidak bisa secara utuh menampilkan apa yang telah disajikan didalam novelnya. Tampaknya kelemahan itulah yang tengah diatasi dengan membagi film Breaking Dawn menjadi dua bagian, ini dilakukan demi menyajikan secara utuh dan memuaskan para penggemar saga Twilight dan bahkan memberikan hal-hal yang tidak bisa diberikan oleh buku Breaking Dawn itu sendiri. Hal yang serupa juga terjadi dalam film harry Potter, film terakhirnya dibagi dalam dua bagian.

Membaca novel terkadang membutuhkan pengalaman membaca dari para penikmatnya. Melibatkan gambaran-gambaran visual yang secara personal diciptakan oleh masing-masing pembaca, sehingga tiap pembaca akan menghasilkan imajinasi atau gambaran visual yang berbeda walaupun yang dibaca adalah novel yang sama. Hal tersebut tidak akan sama dengan menonton sebuah film. Bisa jadi gambaran visual dari masing-masing individu itulah yang mendorong orang untuk sangat antusias dengan film adaptasi dari sebuah novel, rasa penasaran untuk membandingkan antara Film dan novelnya. Hal inilah yang menjadikan film-film adaptasi menjadi begitu populer bahkan sebelum dibuat, seperti sebuah papan reklame yang telah jauh ada sebelum produknya diluncurkan ke pasar. Seorang penulis senior menyebutnya sebagai, “buku juga merupakan papan Iklan yang ampuh”.

Film terakhir dari saga Twilight ini sengaja dibuat special dengan menampilkan opening scene yang lebih artistik dari film-film sebelumya. Pengambilan gambarnya menonjolkan sisi-sisi keindahan yang diharapkan memenuhi harapan imajinasi para penggemarnya. Kelompok Vampir yang tengah bertikai ditampilkan dengan keanggunan yang sekaligus garang, mengedepankan alur yang menegangkan. Dimulai dari Bella Swan (Krirsten stewart) yang terbangun sebagai sosok Vampir yang baru. Ia terselamatkan setelah berjuang demi melahirkan anaknya yang merupakan sosok misterius, belum jelas termasuk golongan apa? Manusia, vampir, atau manusia setengah vampir. 

Renesme, anak Bella Swan merupakan pusat konflik dalam keseluruhan film ini. Jenisnya yang misterius menimbulkan kekawatiran kelompok Vampir Italia, keluarga Volturi yang selama ini menjaga kerahasiaan para Vampir. Hukum keluarga Volturi melarang lahirnya Immortal Child, Vampir anak-anak yang susah untuk dikendalikan, bisa menyebabkan kerusakan yang besar serta membongkar kerahasiaan keberadaan vampir yang selama ini dijaga keluarga Volturi. Dari siniah kemudian lahir permusuhan antara keluarga Volturi dan keluarga Cullen. 

Demi menghadapi serangan dari keluarga Volturi, satu persatu sekutu keluarga Cullen berdatangan untuk memberikan bantuan. Para vampir dalam film-fim sebelumnya bermunculan satu persatu, memberikan bantuan kepada keluarga Cullen dengan kekuatan unik masing-masing. Tentu saja termasuk para manusia Serigala Fork yang sebelumnya sempat bermusuhan dengan keluarga Cullen. 

Dalam sekuel terakhir inilah akan terjawab berbagai misteri yang sebelumnya membuat penasaran. Seperti, kekuatan unik apa yang dimiliki Bella swan ketika menjadi Vampir, Bella adalah satu-satunya orang yang pikirannya tidak terbaca oleh Edward Cullen, juga tidak terpengaruh kekuatan psikik anak buah keluarga Volturi. Misteri-misteri lainnya adalah tergolong makhluk apakah Renesme, anak Bella yang mengalami pertumbuhan begitu cepat. Bagaimana kelanjutan hubungan Bella dan Jakob yang terlanjur mengimprin Renesme? 

Diluar segala adegan kekerasan yang terjadi. Film ini patut diapresiasi karena menampilkan sisi lain, tidak melulu kehidupan barat yang serba bebas, seolah rindu kepada sikap gentleman, sopan santun abad pertengahan, film ini menampilkan karakter utama pria dari jaman itu, yaitu Edward cullen. Bella yang lebih mewakili generasi barat jaman sekarang menyebutnya kuno, atau istilah kerennya Old School. Perbedaan generasi itu terjadi karena Vampir memang makhluk Immortal yang berusia ribuan tahun. Sisi lain yang juga ditampilkan adalah sosok Carlisle Cullen, vampir yang berprofesi sebagai dokter dan suka menolong manusia. Seperti menyindir bangsa barat yang tidak religius, Calisle Cullen justru adalah Vampir yang religius. Ia mengungkapkan bahwa segala perbuatan baiknya pada manusia dilandasi oleh rasa percayanya tentang adanya Tuhan. Ini adalah hal-hal yang tidak biasa pada film-film Vampir lainnya. Ada juga hal lainnya yang berbeda, seperti Vampir akan terbakar jika terkena matahari, dalam film ini, Justru tubuh vampir akan berkilau seperti berlian jika terkena matahari. 

Sejauh ini Film-film yang diangkat dari saga Twilight memang tidak mengecewakan. Paling tidak, sisi romantisme yang menjadi tema utama dalam film ini digambarkan dengan baik. Dan sekuel terakhirnya-pun tidak terlepas dari sisi romatika, perjuangan cinta sebuah pasangan muda (pasangan vampir muda) yang sedang dibawah ancaman maut. Penonton akan dihanyutkan dalam rasa cinta, cemas dan harapan sebuah keluarga baru yang sedang dalam bahaya. Selamat menonton!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar