Sebuah foto unik terpampang mungil di pojok sebuah surat
kabar nasional. Foto itu tentang antusiasme seorang penggemar saga Twilight
yang rela berkemah demi mendapatkan tiket penayangan perdana film breaking dawn
part 2, bagian terakhir dari serangkain film Saga Twilight yang dibintangi
Robert Patinson dan Kirsten stewart. Apa yang menarik dari film ini sampai
begitu antusias para penggemarnya?
Breaking Dawn part 2, melanjutkan rangkaian dari cerita sebelumnya yang diangkat
dari Tetralogi novel Twilight. Ini adalah sebuah film adaptasi yang berasal
dari sebuah novel. Umumnya kelemahan dari film adaptasi novel adalah durasinya
yang terbatas, tidak bisa secara utuh menampilkan apa yang telah disajikan
didalam novelnya. Tampaknya kelemahan itulah yang tengah diatasi dengan membagi
film Breaking Dawn menjadi dua bagian, ini dilakukan demi menyajikan secara
utuh dan memuaskan para penggemar saga Twilight dan bahkan memberikan hal-hal
yang tidak bisa diberikan oleh buku Breaking Dawn itu sendiri. Hal yang serupa
juga terjadi dalam film harry Potter, film terakhirnya dibagi dalam dua bagian.
Membaca novel terkadang membutuhkan pengalaman membaca dari
para penikmatnya. Melibatkan gambaran-gambaran visual yang secara personal
diciptakan oleh masing-masing pembaca, sehingga tiap pembaca akan menghasilkan
imajinasi atau gambaran visual yang berbeda walaupun yang dibaca adalah novel
yang sama. Hal tersebut tidak akan sama dengan menonton sebuah film. Bisa jadi
gambaran visual dari masing-masing individu itulah yang mendorong orang untuk
sangat antusias dengan film adaptasi dari sebuah novel, rasa penasaran untuk
membandingkan antara Film dan novelnya. Hal inilah yang menjadikan film-film
adaptasi menjadi begitu populer bahkan sebelum dibuat, seperti sebuah papan
reklame yang telah jauh ada sebelum produknya diluncurkan ke pasar. Seorang
penulis senior menyebutnya sebagai, “buku juga merupakan papan Iklan yang
ampuh”.
Film terakhir dari saga Twilight ini sengaja dibuat special
dengan menampilkan opening scene yang lebih artistik dari film-film sebelumya.
Pengambilan gambarnya menonjolkan sisi-sisi keindahan yang diharapkan memenuhi
harapan imajinasi para penggemarnya. Kelompok Vampir yang tengah bertikai ditampilkan
dengan keanggunan yang sekaligus garang, mengedepankan alur yang menegangkan.
Dimulai dari Bella Swan (Krirsten stewart) yang terbangun sebagai sosok Vampir
yang baru. Ia terselamatkan setelah berjuang demi melahirkan anaknya yang
merupakan sosok misterius, belum jelas termasuk golongan apa? Manusia, vampir,
atau manusia setengah vampir.
Renesme, anak Bella Swan merupakan pusat konflik dalam
keseluruhan film ini. Jenisnya yang misterius menimbulkan kekawatiran kelompok
Vampir Italia, keluarga Volturi yang selama ini menjaga kerahasiaan para
Vampir. Hukum keluarga Volturi melarang lahirnya Immortal Child, Vampir
anak-anak yang susah untuk dikendalikan, bisa menyebabkan kerusakan yang besar
serta membongkar kerahasiaan keberadaan vampir yang selama ini dijaga keluarga
Volturi. Dari siniah kemudian lahir permusuhan antara keluarga Volturi dan keluarga
Cullen.
Demi menghadapi serangan dari keluarga Volturi, satu persatu
sekutu keluarga Cullen berdatangan untuk memberikan bantuan. Para vampir dalam
film-fim sebelumnya bermunculan satu persatu, memberikan bantuan kepada
keluarga Cullen dengan kekuatan unik masing-masing. Tentu saja termasuk para
manusia Serigala Fork yang sebelumnya sempat bermusuhan dengan keluarga Cullen.
Dalam sekuel terakhir inilah akan terjawab berbagai misteri
yang sebelumnya membuat penasaran. Seperti, kekuatan unik apa yang dimiliki
Bella swan ketika menjadi Vampir, Bella adalah satu-satunya orang yang
pikirannya tidak terbaca oleh Edward Cullen, juga tidak terpengaruh kekuatan psikik
anak buah keluarga Volturi. Misteri-misteri lainnya adalah tergolong makhluk
apakah Renesme, anak Bella yang mengalami pertumbuhan begitu cepat. Bagaimana
kelanjutan hubungan Bella dan Jakob yang terlanjur mengimprin Renesme?
Diluar segala adegan kekerasan yang terjadi. Film ini patut
diapresiasi karena menampilkan sisi lain, tidak melulu kehidupan barat yang
serba bebas, seolah rindu kepada sikap gentleman, sopan santun abad
pertengahan, film ini menampilkan karakter utama pria dari jaman itu, yaitu
Edward cullen. Bella yang lebih mewakili generasi barat jaman sekarang
menyebutnya kuno, atau istilah kerennya Old
School. Perbedaan generasi itu terjadi karena Vampir memang makhluk
Immortal yang berusia ribuan tahun. Sisi lain yang juga ditampilkan adalah
sosok Carlisle Cullen, vampir yang berprofesi sebagai dokter dan
suka menolong manusia. Seperti menyindir bangsa barat yang tidak religius,
Calisle Cullen justru adalah Vampir yang religius. Ia mengungkapkan bahwa
segala perbuatan baiknya pada manusia dilandasi oleh rasa percayanya tentang
adanya Tuhan. Ini adalah hal-hal yang tidak biasa pada film-film Vampir
lainnya. Ada juga hal lainnya yang berbeda, seperti Vampir akan terbakar jika
terkena matahari, dalam film ini, Justru tubuh vampir akan berkilau seperti
berlian jika terkena matahari.
Sejauh ini Film-film yang diangkat dari saga
Twilight memang tidak mengecewakan. Paling tidak, sisi romantisme yang menjadi
tema utama dalam film ini digambarkan dengan baik. Dan sekuel terakhirnya-pun
tidak terlepas dari sisi romatika, perjuangan cinta sebuah pasangan muda
(pasangan vampir muda) yang sedang dibawah ancaman maut. Penonton akan
dihanyutkan dalam rasa cinta, cemas dan harapan sebuah keluarga baru yang
sedang dalam bahaya. Selamat menonton!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar