Sepintas, kata diatas persis seperti judul sinetron. Atau paling
tidak judul lagu-lagu picisan. Hahahaha,.... tertawa miris, kenapa yang muncul
bisa yang seperti itu ya, belakang saya sudah tidak lagi melihat sinetron,
tidak sampai sepuluh menit menonton saja, sudah tidak tahan. Tapi bisa jadi
juga teror judul diatas muncul akibat lagu melow yang tadi diputer di warung.Jadwal
hari minggu gini, adalah Mandi-trus ngopi di warung depan sambil nebeng baca
koran minggu, khusus koran minggu, karena ada halaman putih. Itu kolom sastra
Jawa pos. Di warung lagi diputer lagunya Ungu dan di koran ada tulisan tentang
meninggalnya pak Taufik Kiemas dan Cak Fahrudin Nasrullah. Semoga mereka
diterima amal perbuatannya dan diampuni kesalahannya. Amin
Kopi sudah tandas, nebeng koran sudah selesai, setelah
menyambangi tulisan bang A.S Laksana, dapat pelajaran biologi pula, “Burung pemakan
bangkai itu punya perut, jadi bisa kenyang, tapi koruptor spesies lain, mereka
pemakan segala dan tidak pernah kenyang”. Langkah estafet selanjutnya ke warung
mbok Darmi, tapi karena kesiangan, yang mana warungnya sudah tutup setelah jam
12 siang, saking larisnya dan saking tuanya yang jualan.
Perjalanan berlanjut dari warung ke warung. Sampailah setelah
lima menit menyusuri got yang mirip sungai, atau sungai yang mirip got. Surabaya
memang ajaib, sulit dibedakan mana got mana Sungai. Pemandangan dan bau yang
menyengat tidak elok meski kamu sedang berjalan dengan cewek yang namanya Elok.
Tapi toh, minggu pagi memaksaku untuk membuatnya jadi indah. Orang hidup itu
harus bersyukur, ia bisa membaca, bisa melihat, bisa jajan estafet dari warung
ke warung, apalagi kalau punya teman macam mbak Elok, pokoknya bersyukur, punya
lima indra dan menangis sesekali atau hanya meringis mengingat sesuatu yang
tragis ssemacam kematian seseorang. Kematian selalu bisa direnungi, siapapun
orangnya yang telah tiada, seberapapun kesalahannya dan sifatnya yang baik atau
buruk, semuanya tinggal terhapus, ia telah tiada.
Di warung ketiga, menunya lele sambal penyet. Sayangnya ini
menu makanan yang luar biasa tapi ingatanku terbawa pada kata-kata karakter
seorang Vegetarian dalam sebuah film Jepang, “Sungguh makhluk yang malang”. Di hadapanku
ada lele Goreng dan terngiang kata itu, “sungguh Mahluk yang malang”, tapi
lapar tidak dapat ditahan, dan supaya pengorbanan si Lele tidak sia-sia,
tandaslah lele itu. Di warung itulah, si Ibu penjual warung memutar sinetron,
dan sinetron membawaku pada judul picisan semisal Luna yang tertukar, esa-luna
cinta yang hilang, Alex-melati cinta abadi, dan judul-judul melow lainnya.
Kupakai saja judul itu, esa-luna cinta yang hilang. Kupikir aku
terobsesi dengan Luna, sekedar nama Luna atau apalah, tapi ah sudahlah. Luna
bukan nama yang biasa, tapi hubungan diantara kami persis seperti petani di
pinggir jalan sedang melambai pada presidennya yang melintas naik mobil mewah. Luna
yang berarti Bulan, memang persis seperti bulan, tinggi, cantik, putih dan jauh
diatas sana. Mungkin aku cukup puas dengan bau knalpot mobilnya saja. Di jaman
dulu, pribumi yang jarang melihat mobil memang akan menghirup-hirup asap
knalpot mobil yang lewat, tidak peduli itu mobil Luna atau bukan. Tapi disini
memang ada jejaknya. Aku bisa merasakannya. Harapan sekecil apapun lebih kuat
dari ketakutan. Dan aku akan bertemu lagi, dengan Luna yang lain, dengan
rembulan yang lain. Oke, Keep dreaming brother!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar