Minggu, 09 Juni 2013

Esa-Luna cinta yang hilang




Sepintas, kata diatas persis seperti judul sinetron. Atau paling tidak judul lagu-lagu picisan. Hahahaha,.... tertawa miris, kenapa yang muncul bisa yang seperti itu ya, belakang saya sudah tidak lagi melihat sinetron, tidak sampai sepuluh menit menonton saja, sudah tidak tahan. Tapi bisa jadi juga teror judul diatas muncul akibat lagu melow yang tadi diputer di warung.Jadwal hari minggu gini, adalah Mandi-trus ngopi di warung depan sambil nebeng baca koran minggu, khusus koran minggu, karena ada halaman putih. Itu kolom sastra Jawa pos. Di warung lagi diputer lagunya Ungu dan di koran ada tulisan tentang meninggalnya pak Taufik Kiemas dan Cak Fahrudin Nasrullah. Semoga mereka diterima amal perbuatannya dan diampuni kesalahannya. Amin


Kopi sudah tandas, nebeng koran sudah selesai, setelah menyambangi tulisan bang A.S Laksana, dapat pelajaran biologi pula, “Burung pemakan bangkai itu punya perut, jadi bisa kenyang, tapi koruptor spesies lain, mereka pemakan segala dan tidak pernah kenyang”. Langkah estafet selanjutnya ke warung mbok Darmi, tapi karena kesiangan, yang mana warungnya sudah tutup setelah jam 12 siang, saking larisnya dan saking tuanya yang jualan.

Perjalanan berlanjut dari warung ke warung. Sampailah setelah lima menit menyusuri got yang mirip sungai, atau sungai yang mirip got. Surabaya memang ajaib, sulit dibedakan mana got mana Sungai. Pemandangan dan bau yang menyengat tidak elok meski kamu sedang berjalan dengan cewek yang namanya Elok. Tapi toh, minggu pagi memaksaku untuk membuatnya jadi indah. Orang hidup itu harus bersyukur, ia bisa membaca, bisa melihat, bisa jajan estafet dari warung ke warung, apalagi kalau punya teman macam mbak Elok, pokoknya bersyukur, punya lima indra dan menangis sesekali atau hanya meringis mengingat sesuatu yang tragis ssemacam kematian seseorang. Kematian selalu bisa direnungi, siapapun orangnya yang telah tiada, seberapapun kesalahannya dan sifatnya yang baik atau buruk, semuanya tinggal terhapus, ia telah tiada.

Di warung ketiga, menunya lele sambal penyet. Sayangnya ini menu makanan yang luar biasa tapi ingatanku terbawa pada kata-kata karakter seorang Vegetarian dalam sebuah film Jepang, “Sungguh makhluk yang malang”. Di hadapanku ada lele Goreng dan terngiang kata itu, “sungguh Mahluk yang malang”, tapi lapar tidak dapat ditahan, dan supaya pengorbanan si Lele tidak sia-sia, tandaslah lele itu. Di warung itulah, si Ibu penjual warung memutar sinetron, dan sinetron membawaku pada judul picisan semisal Luna yang tertukar, esa-luna cinta yang hilang, Alex-melati cinta abadi, dan judul-judul melow lainnya.

Kupakai saja judul itu, esa-luna cinta yang hilang. Kupikir aku terobsesi dengan Luna, sekedar nama Luna atau apalah, tapi ah sudahlah. Luna bukan nama yang biasa, tapi hubungan diantara kami persis seperti petani di pinggir jalan sedang melambai pada presidennya yang melintas naik mobil mewah. Luna yang berarti Bulan, memang persis seperti bulan, tinggi, cantik, putih dan jauh diatas sana. Mungkin aku cukup puas dengan bau knalpot mobilnya saja. Di jaman dulu, pribumi yang jarang melihat mobil memang akan menghirup-hirup asap knalpot mobil yang lewat, tidak peduli itu mobil Luna atau bukan. Tapi disini memang ada jejaknya. Aku bisa merasakannya. Harapan sekecil apapun lebih kuat dari ketakutan. Dan aku akan bertemu lagi, dengan Luna yang lain, dengan rembulan yang lain. Oke, Keep dreaming brother!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar